"Time Will Heal" is True, But...

Kalian bisa jadi pernah dengar perkataan berikut: time will heal everything. Kalimat itu rasanya begitu menggugah, apalagi jika posisi kita sedang menggengam luka. Seperti ada optimisme muncul dan membawa kita untuk tak patah semangat.

Tapi nih, ya, mommaap, emang iya, waktu menyembuhkan segalanya? Hehe.

Siapa sih yang gak pernah terluka dalam hidupnya? Pasti, tiap-tiap dari kita pernah merasakan luka. Entah karena disakiti, entah karena kegagalan sehingga terjatuh sendiri, atau justru terluka karena kehilangan. Duh...

Saat menghadapi luka menganga ini, rasanya ya... mungkin awalnya gak percaya. Fase denial. Mulai tumbuh pertanyaan-pertanyaan dan rasa tak percaya seperti: kenapa harus aku? Kenapa harus sekarang? Kenapa ini, kenapa itu...

Saat rapuh macam ini, kalimat di judul postingan ini cukup dapat memberi ketenangan dan rasa damai. Sehingga, akhirnya fase denial itu dapat dilalui dan kita tiba pada fase lain yakni: menerima. Menerima kehadiran serangkaian peristiwa yang membawa luka itu dan menerima bagaimana luka itu sendiri sebagai bagian dari diri dan hidup kita.

Indeed, time will heal everything.

Tapi...

Aku cerita dulu, ya.

Pada tahun 2016 aku pernah kecelakaan di Jogja. Sebetulnya bukan kecelakaan tunggal, tapi "korbannya" hanya aku seorang. Di tahun itu, aku dan keluarga kecilku pindah sementara ke Jogja. Karena hanya sementara dan tidak sedang punya job apa-apa, jadilah aku daftar kuliah lagi. Long story short, aku yang sedang hamil muda itu tetap semangat ke kampus dengan bawa motor sendiri. 😄

Bagaimana aku terjatuh cukup cepat. Tahu-tahu motor sudah jauh dariku, cardigan-ku sobek di sepanjang bahu kanan, celana jeans pun koyak sepanjang kaki kanan. Perawat harus merobek kedua pakaianku itu agar bisa membersihkan lukanya. 😂

Lukanya hanya permukaan, sih. Cuma kulit yang terluka itu cukup menyayat hingga lapisan yang agak dalam, hehe. Jadinya, permukaan kaki kananku sempat tak bisa ditekuk. Let alone standing and walking.

Tiap kakiku mau turun bed, ampun, aku bisa merasakan aliran darah masuk ke bagian luka itu dan rasanya... hmm... sedap! 😂😂😂 Aku tak bisa menggerakkan kaki, jalan, apalagi kembali mengurus anak-anak. Ketika masa ujian hampir tiba, aku terus bergumam dalam hati: sampai kapan aku begini?

Diriku berkata: time will heal, Anggie.

Tapi karena aku adalah orang yang yes, but no, maka diriku yang lain menyahut: iya, tapi mau sampai kapan?

Waktu memang akan menyembuhkan segalanya. Pasti. Absolut. Mutlak. Apalagi luka-luka fisik begitu. Tubuh manusia memiliki mekanismenya sendiri yang begitu menakjubkan. Ia akan menutup luka, mengeringkannya, hingga menggantinya dengan kulit yang baru.

Tapi, baik luka fisik maupun luka batin, jika kau hanya menginginkan untuk sembuh, ia akan sembuh dengan sendirinya. Hingga kau mungkin akan lupa dan tiba masanya kau berkata: ah, masa luka itu sudah berlalu.

Masalahnya, tidakkah kau menginginkan untuk kembali kuat seperti sebelumnya? Kembali bersemangat layaknya sebelum kau dianugerahi luka itu?

Diriku menegaskan kembali: don't you want to come back stronger?

Time will heal, it's true. But you need to work on yourself--maybe a bit harder--if you want to come back stronger and bring back your life together again. Time will heal, but I want to come back stronger.

Kondisi kami saat itu juga tak memungkinkan untukku terus menunggu lukaku siap. Aku yang harus menyiapkan diri. Kami kemudian mencari tempat penyewaan kruk dan kursi roda. Aku pun harus segera belajar jalan sebab sebentar lagi ujian datang. Aku ingat aku hadir di hari ujian dengan luka di kaki masih basah, diperban, dan jalan tertatih sebab ruangan ujian audio itu ada di lantai dua. 😂

But hey, I did it.

Lakukan apapun yang dibutuhkan untuk membuatmu kuat kembali. Bukan hanya sembuh, namun kembali berjalan tegap dengan dagu terangkat. Tak ada yang akan memberimu privilage itu. Jadi, pastikan keinginan untuk kuat kembali itu datang darimu.

Jadi, sedih seperlunya. Jika kau rasa sudah tiba saatnya, maka berkatalah pada dirimu sendiri: time will heal, indeed, but...[]


Garut, 14 Maret 2021

Comments

Popular Posts

Klinik Permata Bintaro

Yuk, masak!

Melankoli Pandemi