Tentang Blogging

Umur blogku yang ini jauh lebih "tua" dari pada umur akun Twitter. Tapi tentu aku lebih banyak ngebacot di sana ketimbang di sini, wkwkwk. Alasannya lebih ke persoalan teknis aja: Twitter lebih praktis. Tapi tau gak, kenapa aku masih mau bertahan di sini?

Pertama, kebalikannya dari Twitter: blog memungkinkan untuk aku menulis panjang--sepanjang apapun semauku. Tulisan panjang itu jelas tidak terinterupsi oleh batas karakter sehingga harus dipenggal menjadi beberapa bagian. Pengalaman membaca kadang keganggu karena hal begini.

Untuk perkara piranti menulis, walau Blogger sudah menyediakan fitur aplikasi mobile, hampir seluruh postingan di blog ini aku tulis dengan PC. Aplikasi Blogger tuh sama sekali gak asyik. Dan bagiku, aktivitas blogging sejati tuh ya pakai PC bukan pakai hape, hahahahah. *APADEH*

Nah, beberapa waktu yang lalu tuh aku pernah sengaja kirim feed back ke tim Blogger. Sebagai blogger lawas, ceritanya aku protes kenapa Blogger tuh gak upscale dengan menyediakan fitur-fitur tambahan yang bikin pengalaman blogging jadi makin cihuy.

Di feed back itu aku pake acara bandingin Wordpress segala, lho. Dulu awal bikin akun ini, aku sempet pindah ke lain hati Wordpress karena template theme-nya Blogger tuh amit-amit. Bahkan untuk theme bawaan yang gratisnya pun astajim banget. 

Tapi akhirnya blog Wordpress gak terlalu dirumat karena blog ini udah jauh lebih banyak postingannya. Sempat ingin membangunkannya dari hibernasi panjang, tapi tetep jarang posting di sana.

Kedua, blogku adalah platform yang paling senyap dari audiens. Akun sosmedku tuh gak punya banyak followers ato friends. Paling banyak memang Facebook, tapi itupun sudah aku deactivate karena jarang banget interaksi dengan teman-teman di sana.

Tinggal Instagram dan Twitter yang masih aku pelihara untuk tetap update situasi, jaga relasi dengan beberapa teman dekat, dan tentu jualan buku hahahahha. Itupun follower-nya ga banyak, meski tetap audiensnya aktif dan jauh lebih reachable dibandingkan blog.

Ini alasan penting kenapa aku cinta banget blogging. Walau peluang orang yang gak dikenal tetap bisa baca dan akses blog ini, tapi tetap akhirnya yang bakal mau baca ya mereka yang suka atau niat mau baca blog aja--bukan untuk mainan sosmed. Seleksi alam, kan?

Lagian, siapa sih yang mau-maunya ngebacain blog nirfaedah begini? HAHAHAHAHA... Oh, btw ya, sejak dua tahunan kemarin aku ganti blog address, blog stats-ku anjlok banget, beb *cry*

Dari situ aku belajar, usia dan konsistensi blogging tuh NGARUH BANGET BUAT GOOGLE PAGE RANK *monmaap y pemirsha, aq emosy

Emosinya sih karena sebetulnya bisa dapet ratusan klik untuk satu judul tuh prestasi. Dulu aku masih suka nulis sesuatu yang informatif macem Pasar Asemka, kebuntingan, sampe review-reviewan gitu. Tulisan informatif plus umur blog address yang udah dikenal baik sama Google tuh bikin blog stats-ku untuk tiga contoh postingan itu tadi bisa mencapai 500an klik perjudul perbulannya, loh. Setelah ganti blog addresss, semua ambyar hahahha.

Tapi ada bagusnya juga karena frekuensiku nulis sesuatu macem itu udah jarang banget. Sekarang lebih seneng bagi cerita aja untuk kebutuhan personal kayak misalnya jadi wadah untuk dibaca anak-anakku seandainya kelak mereka rindu padaku. *eeaaa.

(Hai, Nak! Kalo kamu nanti baca ini, Bunda juga rindu, loh. Love you, ya.)

Blog ini tuh sebulanan palingan seratusan visit doang, loh. Sebulan, untuk all posts. HAHAHAHAHA. What a clown. Tapi justru ini yang sekarang aku cari.

Aku butuh tempat nulis yang senyap. Nulis apapun yang aku mau. Nulis galau, nulis sedih karena udah gak ngantor, nulis fiksi, nulis book review, apa aja lah pokoknya.

Sesekali aku butuh membebaskan diri dari bisingnya opini orang lain. Dan ruang terbaik itu hanya aku temukan di sini. :")

Comments

Popular Posts

Melankoli Pandemi

Raden Mandasia dan petualangannya (a book review)

Klinik Permata Bintaro