Selamat Hari Kamu Sedunia! (Kapanpun Itu)

Kelak, kamu pasti bisa menemukan seseorang yang dapat memelihara percakapan, melahirkan tawa, merangkai doa, sampai berupaya menghapus air mata. Mungkin seseorang yang baru. Atau mungkin dia yang sudah selalu ada sejak kau kecil dulu.

Suatu hari nanti, hal yang kau perjuangkan ini akan kembali padamu. Menjadi seorang dengan balutan "Kaum Seperti Kita" 🌈 di tanah ini memang tak pernah mudah. Tapi, pasti. Semua akan berpulang padamu. Dalam rupa karma baik, tentu.

Jangan habiskan waktu tidurmu dengan terjaga terlalu larut, ya. Apalagi tenggelam terlampau dalam di samudera kekhawatiran sampai hari berganti pagi yang terlalu dini.

Sulit berkata jujur memang karaktermu. Bukan tak bisa. Aku paham kau punya terlalu banyak pertimbangan untuk bisa mengucapkannya. Bahkan sekadar bilang "aku rindu" pada dia yang sudah lama kau bersamanya. Bahkan pada dia yang kau tahu kau pasti akan dapat balasan indah serupa. Kalau yang terakhir ini ada jaminannya, belajarlah menyampaikannya, ya.

Omong-omong soal kejujuran, mulailah dari dirimu sendiri dulu. Kau tak perlu mengubah persona, sebetulnya. Tak perlu mengenakan topeng yang berbeda-beda, mereka-reka cerita yang tak pernah sama, apalagi sampai membangun peran dengan karakter berpunggung-punggungan.

Tak ada gunanya. Sangat melelahkan dan kau tahu itu.

Kau cenderung mengusir orang-orang di saat kau butuh mereka. Oh, sekarang kita bicara soal Ibu. Aku bicara tentang waktu itu di mana kau ingin pergi dengan kehendakmu sendiri. Beliau benar, lho. Kau hanya peduli pada perasaanmu lalu bagaimana dengan perasaan mereka nanti setelah kau pergi? Kau memang bungsu rasa anak tunggal sejati.

Kau tahu? Orang yang dewasa setelah ditempa hidup, tidak seketika memberi cinta hanya dari apa yang mereka terima. Namun mereka memproduksinya sendiri. Mereka tanam dan berkebun di ladang mereka sendiri. Mereka bersuka cita dan membaginya. Kupikir, kamu salah satu dari orang-orang seperti mereka.

Kau tak perlu keluar dari guamu jika itu pilihanmu. Di luar semua kisah-kisah yang kau tuturkan itu benar atau tidak, tetaplah baik. Tetaplah kuat.

(Kapanpun itu,) selamat hari kamu, ya. Mungkin itu hari ini, kemarin, sebulan yang lalu atau masih bulan depan, aku tak tahu. Aku tak punya keberanian menyampaikannya langsung padamu. Sebab, kau tahu, kamu akhirnya berhasil membangun dinding itu. 

Pun, aku tak punya "semoga-semoga" sebab rasanya kau sudah punya segalanya. Tapi kau bisa baca ulang tulisan ini dan kau akan dapatkan banyak semoga tanpa aku menuliskan satu pun kata "semoga" di dalamnya. Semesta selalu bersamamu.  💙[]


25 Oktober 2020, 04.34 AM

Comments

Popular Posts

Melankoli Pandemi

Raden Mandasia dan petualangannya (a book review)

Klinik Permata Bintaro