Posts

Showing posts from October, 2020

Just Turned Down The Lights

I had those days full of laughter. I had those windy noon when the train arrived and the door was opened for me. I had the journey. I thought I had some company. Turned out, the park suddenly dark. I had " excuse me, may I borrow your smile for me?". Once, it felt so real. Well, it is real. What was love made out of fantasy?  Cupid added some clouds in it then it become lucid dreams. You are perfect for me. Then she puts her damaged soul--burn it away. Helplessly. --- Written on a breezy day while I was listening to one of my favorite song and waiting for lunch

Catatan Di Sebuah Pagi yang Terik

Image
 Kalian pernah dengar kalimat ini gak: "Orang baik untuk orang baik." Lalu, kalian percaya dengan kalimat itu? Ya, mungkin tergantung, ya. Kalau kalian sedang merasa baik-baik saja, kalimat itu bisa saja terasa sangat  relate.  Sementara kalau lagi gak baik-baik aja, kalimat apapun ( well, bahkan kalimat motivasional sekalipun) akan terasa bullshit , ya. :)) Aku sendiri percaya kalimat itu (tapi tidak sedang baik-baik saja, sih :))). Tapi, bagiku, mungkin konteksnya tidak melulu "orang". Person . It could be anything . Kerjaan. Rejeki. Lingkungan. Relasi dengan orang tua atau orang lain. Koneksi. Cita-cita. Whatever you named it . Beberapa hari yang lalu, aku melalui satu hari berat di mana aku rasanya ingin marah. Banget. Tapi gak bisa. Satu, lagi puasa (HAHAH, nga bole mara-mara apalagi menangys, bosque!). Kedua, I don't think I had quite much energy to raging on everything . Energiku dua hari sebelumnya itu sudah kudedikasikan untuk qerja qerja qerja bagaikan

Abah dan Yudi

Stasiun Kalibata malam itu telah basah. Berbeda ketika ia baru naik dari Sudirman tadi, baru mendung bergantung . [ Tukang makanan sudah tiba .] Pesan pendek dari Abah hadir menyambutnya yang sedang berjalan keluar stasiun. [ Abah makan duluan aja. Yudi baru turun stasiun ini. ] Ia membalas sembari berjalan pelan. [ Abah masih mau isya dulu , kok . ] Sama seperti dua malam sebelumnya, Abahnya berkenan menantinya pulang dan makan bersama. Abah sempat menawarkan diri untuk memasak untuknya, tapi tak ada supermarket di apartemennya. Apalagi pasar terdekat. "Abah masih bisa bikin ikan goreng, Yud", selorohnya ketika hari itu ia baru saja sampai. "Yah, walau mungkin tidak seenak punya Umi." Abah kemudian terkekeh. Setelah Umi wafat tahun 2014 lalu, Abah tinggal bersama Mbak Ratih, kakak tertuanya yang rumahnya tak terlalu jauh dari makan Umi. Rumah dan kebun Abah segera dijual, sebab Abah tak ingin menempati rumah itu sendirian. "Abah gak mau lah ngel

Drama Sebelum Tidur

Image
Ada yang lucu tiap kali tidur sama bocil-bocil ini. Iya, ada aja dramanya. Mau itu tidur siang atau tidur malem, mereka ini gak bisa langsung pules *gak kayak emaknya Bener, deh. Buat orang yang pelor (nempel-molor) macem aku ini, habit sebelum tidur mereka sungguhlah bikin pening. Aku ini hanya butuh dua menit untuk merem kemudian sampe ke alpha state . Sementara mereka, dikasih waktu setengah jam pun gak kelar-kelar ya Lord. Jadi kalo mau ngajak tidur nih, minimal spare  waktu satu jam sebelom batas jam tidur. Iya, sejam :))) Selama itu? Banget. Karena mereka ada aja yang dikerjain dan selalu minta extra time . Dikata maen bola apa gimana, malih? :)) Sebelum tidur aku selalu kasih warning  ke mereka, misalnya: nanti Bunda turun setengah jam lagi ya, guys.  Kelarin dulu main/baca/nontonnya sebelum Bunda turun. Maksudnya sih ya, nanti abis aku tutup laptop, kami langsung ke kamar lalu zzz... Itu ekspektasinya, sih. Wkwkwkwk. Dan yang dikasih tau mah iya-iya bae :))) Nanti setengah  jam

Untukmu, semoga kau makin kuat

Akhir Desember tahun kemarin. Aku dalam perjalanan menuju Senayan naik Trans Jakarta koridor 1. Sore tadi habis hujan, jalanan basah, udara lembab dan dingin. Pukul tujuh kurang. Semakin dekat halte terakhir (Blok M), penumpang semakin surut. Pun, bis semakin berembun karena sungguh dingin. Kita berbincang di fitur pesan sebuah sosial media setelah aku memberi respon dari cerita singkat yang kau unggah. Ceritamu, mengingatkanku pada milikku. Kau berbagi betapa sulit menata perasaanmu saat itu. Aku paham itu. Paham sekali. Aku mengenal kalian sebetulnya hanya selintas saja. Kalian pernah berkunjung ke rumah kami. Beberapa kali diceirtakan tentang kalian juga. Kalian manis. Ke mana-mana sering berdua. Banyak momen yang kalian bagi dalam situasi bahagia. Tapi, perkara hidup siapa yang tahu arahnya akan ke mana? Siapa yang menjamin kita akan selalu bahagia? Kini kau sedang asyik mendalami yoga. Kadang menyambangi sahabat-sahabatmu di sana dan bercengkrama. Kadang sibuk membesarkan toko dar