Posts

Showing posts from September, 2020

Move on, Alex!

Image
"I wrote a long paragraph last night." She sat in front of me and took a toast that already cold. "About Jo?" I asked her while still holding my book. She nodded while chewing. "This pain is too heavy to endure." I nodded too. Alex and Jo made two fabulous years of relationship. They looked fine. Everything seemed good. Until one day Jo said he wanted to leave. Not going anywhere but left from Alex. Since that day, Alex spent mostly her days in my dorm. She was doing everything except being normal. She cried a lot , r efused to eat and didn't be able to attended classes. All of her friends came by but then they gave up. They just didn't get it why it was that HARD for her to move along with her life . A life that quite delightful. You know, gold and glitters. She, actually, has them all. "But I just want to keep it myself, not give anyone a chance to read it." I guess she talked to me. "I don't want to read eith

Optimisme Hujan

Image
Malam tadi, Si Paling Kecil tergopoh-gopoh datang ke kamarku membawa serta bantal dan guling kecilnya: mau bobok sama Bunda. Baik. Seperti malam sebelumnya, hujan tetiba turun cukup lebat. Pas sekali sebagai suara latar sebelum tidur kami. Penyejuk ruangan sudah disetel normal sehingga niscaya sudah tidak bikin menggigil lagi. Kaus kaki sudah dipakai, botol minum tersedia di samping dipan, dan selimut sudah siap (jaga-jaga siapa tahu butuh diselimuti). Semua ada, seperti biasa. Kami berbincang sebentar, seadanya. Lalu saling mencium, memeluk, menghirup rambut, sebanyak-banyaknya. Sesekali tertawa, selepasnya. Lalu ia bilang: Bun, hujannya hilang . Aku menyahut: oh, bukan hilang, tapi berhenti. Hujan tak hilang, tapi berhenti. Di detik aku mengatakan itu, aku menyadari sesuatu. Kita memang tak pernah menganggap hujan hilang. Hujan itu hanya  berhenti . Kita meyakini hujan pasti akan datang lagi . Sebuah optimisme bawah sadar yang kemudian menjadi kepercayaan umum. Kita begitu beriman pa

Cerita tentang Kamu yang Sedang Suka Paus dan Hiu

Image
Pagi ini kalian berdua terbangun dengan piyama lengkap dengan kaus kakinya. Jakarta dan sekitarnya sedang giat hujan deras selepas siang terik yang menggigit. Semalam, kamu yang terkecil, lelap dengan dua lapis selimut di sampingku. Ini bukan hal biasa, tetapi lumrah karena penyejuk ruangan kita baru saja dibersihkan dua hari yang lalu. Ditambah dengan cuaca yang sedang basah-basahnya, dinginnya jadi luar biasa, Nak. Aku lalu teringat percakapan kita beberapa saat lalu tentang apakah beberapa spesies hiu dan paus yang kamu baca dari sebuah buku itu kini masih hidup atau tidak. Kita akhirnya berselancar mencari video footage hiu dan paus terbaru dari beberapa channel media luar negeri. Kamu takjub sekali mendapati beberapa spesies masih ada sekarang. Lalu tiba-tiba aku merasa harus bercerita soal perburuan paus di beberapa wilayah di negeri ini. Aktivitas ini berkontribusi pada berkurangnya kuantitas paus sebab ini adalah tradisi yang telah dijalankan sejak lama sekali.  Kita lalu meni

Andai saja

 Apa yang membuatmu resah untuk meninggalkan hidup? Jawaban orang untuk pertanyaan itu pasti beda-beda. Ada yang merasa belum bisa membahagiakan orang tua, sehingga maish ingin panjang umur sepanjang mereka masih ada. Ada yang punya agenda kemanusiaan yang begitu panjang sampai-sampai tak ingin mati sebelum semua agenda itu terlaksana. Ada yang masih ingin menikah, memelihara anak-anak mereka, dan menua bersama. Ada yang mau membangun mimpi. Ada yang sedang berupaya bahagia (kembali). Ada yang tengah mengejar cinta. Saya? Saya pengen nerbitin buku sendiri. Karena saya sadar saya bukan penulis-penulis amat, jadi ya pengen membuat semacam upaya pendokumentasian sehimpunan tulisan aja. Saya begitu menikmati tulisan saya sendiri. Bagi saya, beberapa di antaranya ditulis dan disusun dengan indahnya sampai rasanya saya perlu untuk membagikannya kepada beberapa orang lainnya. Engga, gak bagus-bagus amat, kok. Rada enak dibaca aja. Jadi, ketika ada beberapa tulisan yang "diperkenankan&quo