Kapan nulis (lagi)?



Kapan terakhir nulis?
Lupa.

Bukan, bukan nulis yang macem begini. Tapi nulis yang random. Nulis yang membebaskan, nulis appaun tentang apa yang ada di kepala, nulis tentang hari itu, nulis tentang yang terjadi minggu kemarin, nulis mengenai apa yang pernah terjadi beberapa waktu yang lalu.

Nulis yang membicarakan diri sendiri. Menertawakan diri sendiri.

Terakhir yang satu intonasi dengan tulisan model begitu ya pas curhat soal jobless itu.

Dulu, aku cukup sering nulis random begitu di sosmed. Tapi kemudian, ada hal-hal yang membuatku akhirnya harus berjarak dengan "panggung sosial media" sejenak.

Ada masa di mana aku begitu mengkhawatirkan persepsi orang lain. Ada masa ketika aku gak punya teman berbagi dan kehilangan "suaraku" sendiri, aku membaginya di sosmed. Tapi itupun terasa semakin salah.

Mungkin tulisanku memang gak menarik buat orang lain. Lagian, sejak kapan kita harus nulis buat orang lain, ya kan?

Mungkin itu alasan kita takut dicap melankolis, baper, apalah...

Aku ingat, aku mulai berhenti melakukan banyak hal sejak... sekitar empat tahun lalu. Berhenti membuka diri, berhenti membagi cerita apapun pada orang yang sebelumnya bahkan kubagi hidupku dengannya, berhenti 

Mau tau gak, implikasinya? (Netizen: ngaaaa~)

Aku jadi ga mengenali cara berpikirku supaya runut dan teratur lagi. Aku jadi "membungkam" isi kepalaku dan menolak untuk mengekspresikannya. Imbasnya ya, karakter tulisanku yang rasa-rasanya sudah tidak begitu "bersuara" seperti dulu.

Bahwa ini bukanlah hal yang terlalu menyenangkan bagiku, itu benar. Melihat yang sudah-sudah, menulis sesuatu yang cukup "bersuara" mungkin adalah hal menakutkan bagiku. Tapi aku sedang ingin menemui diriku lagi.

Jadi, sekarang aku mau mengupayakan menulis kembali. Sebagai terapi. Agar banyak hal di kepala dapat ditampung dalam satu wadah yang memiliki muara. Muara Senandika.

Mumpung sudah punya "rumah baru" di sini. Seharusnya kan kalo udah pake domain sendiri jadi lebih semangat kan, ya? Ya, semoga saja.[]

Comments

Popular Posts

Melankoli Pandemi

Raden Mandasia dan petualangannya (a book review)

Klinik Permata Bintaro