Belajar mengenal diri sendiri: The School of Life's book review


Judul: The School of Life: an emotional education

Penulis: Alain De Botton (ed)

Kategori/genre: phsycology

Penerbit: Hamish Hamilton

Jumlah halaman: 310 halaman

Bahasa: Inggris

Hi! Di postingan kali ini aku mau bikin review buku The School of Life: an emotional education yang beberapa saat yang lalu sudah selesai aku baca. 

Semoga bisa bermanfaat buat yang sedang nyari review sebelum beli bukunya, ya.

Aku beli buku ini awalnya karena book walking di beberapa toko buku online dan berakhir berselancar untuk mencari tahu soal The School of Life dan beberapa buku keluaran mereka di Goodreads. Yep. That was my first acquaintance with them.

Jadi, The School of Life itu adalah sebuah organisasi yang fokus pada edukasi dan encouraging mengenai kondisi psikologi yang basisnya ada di London dan punya beberapa “cabang” di beberapa negara (engga, di Indonesia gak ada, zo zad). 

Mereka biasa buka kelas, ngadain seminar, nyediain sesi terapi, dan juga nerbitin buku-buku seperti yang sedang aku ulas ini.

Aku merasa buku ini worth to read bukan hanya karena ini diterbitin sama lembaga yang udah mumpuni, melainkan juga bisa ngasih insight soal kecerdasan emosional diri. Di antara beberapa buku lainnya, aku paling suka sama seri An Emotional Education ini dan Big Ideas for Curious Minds.

Hanya saja, judul kedua itu rasanya lebih pas untuk anakku, hahahah. Tapi aku tetep pengen baca, sih.

Sebelum baca The School of Life ini, aku belum pernah baca buku berbahasa inggris non fiksi dari genre psikologi. Kalo genre self help kan rasanya lebih ringan dan applicable, ya. 

Sementara The School of Life ini karena bukan genre self help, jadi kita lebih kayak diajak kontemplasi. Berpikir dan mengenali diri sendiri lebih dalam.

Terbagi dalam lima bab yakni: self, others, relationships, work and culture, tiap babnya terdiri dari sub-sub chapter pendek yang membicarakan komponen-komponen kecerdasan emosional dengan perspektif psikologis, sosiologis, antropologis, sejarah, bahkan seni. 

Kesannya komplit, ya? Tapi engga juga, kok. Semua dibicarakan dari permukaan walau menurutku tetap insightful.

Waktu yang aku butuhkan untuk mengkhatamkan buku ini kira-kira sebulanan, lah. Hahahaha, I am not such a fast reader

Tapi memang kebiasaanku kalo baca buku non fiksi harus didampingi buku fiksi lain. Jadi kalo bosen, aku pindah ke lain hati buku.

Nah, yang bikin aku lama bacanya antara lain karena bahasa tulisnya yang dalam bahasa yunani disebut “ndakik-ndakik”, wkwkwk. There were times that I had to go back and forth to make sure I am truly understand with the statements.

Hal lain yang bikin lama adalah: aku gak mau cepet-cepet selesai. Bener. Ini tuh salah satu buku dalam wish list yang cukup lama bikin aku berpikir apakah aku butuh untuk beli buku ini. 

Rasanya kesampaian punya dan baca buku yang ada dalam wish list kan gitu, ya. Kayak gak mau buru-buru pisah, selesai, tutup buku.

Bab yang paling aku suka adalah bab tentang Self dan Culture. Terutama Self, sih. 

Baca bab itu serasa kayak dateng di sebuah slow course di mana dibahas tentang primal wounds, inner child, kenapa ada orang-orang dengan karakteristik tertentu, kenapa KITA bisa berpikir dengan jalan pikiran tertentu yang membuat kita akhirnya mengeluarkan sikap-sikap tertentu. 


Buku ini menurutku bisa relevan dengan kondisi saat ini di mana rasanya kita butuh banyak asupan secara psikologis (salah satunya bisa didapat dari bacaan seperti buku ini) agar dapat mengenal diri sendiri lebih dalam sebelum akhirnya, kita memahami orang lain. 

Kalo kata aku mah: fill your cup first, before you fill others. Apalagi buat ebok-ebok kayak aku, yah. Masih harus terus mau belajar dan berkembang (kayak taneman aja).

Oh, satu lagi dari Mayora: buku ini bikin persepsiku tentang piramida kebutuhannya Maslow agak sedikit berubah. Bahahahaha.

Banyak banget kutipan yang bisa diambil dari buku ini. Saking banyaknya sampe pusing mau naro yang mana buat IG story wkwkwk. Beberapa di antara yang buatku remarkable adalah:

In an ideal society, it would be not only children who were known to need an education--page 22 

A breakdown isn’t just a pain, though it is that too of course; it is an extraordinary opportunity to learn--page 74 

Love is a skill, not an emotion--page 171

Akhirul kata, mengutip apa yang sudah aku bilang di Goodreads, this is the best non fiction book so far. At last, this book shows me that (in life,) nothing is too big and though it might be hard: it is bearable. *holding hands*[]


Comments

Popular Posts

Melankoli Pandemi

Raden Mandasia dan petualangannya (a book review)

Klinik Permata Bintaro