Melankoli Pandemi


Begitu banyak hal telah terjadi padaku sejak awal tahun 2020 ini. Tentu aku takkan menyebutkannya di sini. Terlalu panjang untuk sebuah blog post. Dan terlalu ringkas untuk sebuah perjalanan hidup.

Baru masuk bulan kelima, namun rasanya sudah terlampau jauh berjeda. J. E. D. A.

Semua orang tahu, dunia sedang berjuang dengan pandemi. Kita yang telah terbiasa memangkas jarak, kini wajib membiasakan diri untuk menjaga jarak. Sejauh mungkin. Selama mungkin. Bagiku yang selama ini merasa tak ada masalah apa-apa dengan kehadiran yang lainnya, ini agak menyesakkan.

Dari sini aku menyadari beberapa hal:

Waktu dan kesempatan bukanlah hal main-main yang diberikan Tuhan untuk kita.

Kita kerap mengabaikan kesempatan.


Kesempatan menemui mereka yang ingin bertemu.

Kesempatan berbagi tawa.

Kesempatan bertanya: kamu baik-baik saja?

Kesempatan menghargai mereka yang telah menghargaimu jauh sebelum kamu tahu.

Kesempatan membagi pelukan, secara langsung.

Kesempatan menyeka air mata, secara langsung.

Kesempatan menyatakan cinta dan rindu, tanpa berdalih hal-hal klise lainnya.

Kesempatan menikmati waktu dan diri sendiri.

Kesempatan membangun kenangan, apapun itu.

Kesempatan meminta maaf dan memaafkan. (Kapan lagi? Jangan buat dua hal ini hanya wajar dilakukan saat Lebaran dan menjelang ajal.)


Kita merasa dapat lebih menerima hal baik yang datang ketimbang hal buruk.


Manusiawi. Padahal, dua hal tersebut tentu dapat terjadi bersamaan. Keduanya, sama digariskan untuk kita. Pun keduanya, tak pernah benar-benar berlangsung hingga kita terpisah dari raga.

Pernah, ketika hal baik datang, aku ragu apakah ini benar-benar baik untukku? Benar-benar membuatku bahagia? Bagaimana jika ia pergi lalu berganti hal yang tak sebaik ini lagi?

But hey, life goes on.

Kita pasti menemukan cara bertahan yang baru. Segala yang manis, indah, baik, asyik, seru,... dinikmati saja dulu. Tak perlu buru-buru. Yakinlah, kita masih ada waktu.

Ini bukan berpisah, melainkan “sampai jumpa lagi”.

Ini bukan hal buruk, tetapi “hal baik yang datang dan pergi”.

Ini bukan patah hati, namun “mencari hilir cinta kembali”.

Ini mungkin adalah sebentuk rasa sedih, dan kita dapat merayakannya dengan cara yang berbeda.


Untuk segala yang kurasakan hingga hari ini: terima kasih sudah sempat hadir dan memberi arti.[]


Comments

Popular Posts

Raden Mandasia dan petualangannya (a book review)

Klinik Permata Bintaro