Posts

Showing posts from 2020

Camkan Ini:

Kapan kau mau berhenti? Kapan kau mau benar-benar pergi? Aku sudah muak. Muak dengan sikap tak mau tahumu. Muak dengan bagaimana kau selalu ingin dipahami. Muak dengan malam-malam di mana kau tak bisa tidur dan minta didongengi, lagi dan lagi. Kapan kau berani? Kapan kau mau kelahi? Lawan lah semua itu. Kau mungkin akan butuh waktu yang jauh lebih lama, tapi kan itu tak apa. Walau tak jelas yang kau takutkan itu sebenarnya apa. Apa? Setan? Bukan. Hantu? Bukan. Ia hanyalah satu rasa yang menjajah isi kepala dan meracunimu pelan-pelan. Sudah. Aku mau pergi.[]

Days Without Phone

Image
My phone is dying. Last Saturday morning (26th December), he jumped into the water while my husband took the boys in the shower. Don't ask how can it did happen. He is my seventh phone and has been with me for at least one and a half year. Just like you, I stored a lot of things there. After pulled it from water, I put it on the sack of rice for more than an hour, I guess. Still no sign of life. Ppfft. That evening we brought the phone to the service center nearby. I need it to be handling soon. It's an emergency because that day I had an appointment with someone and I have a project that still needs to progress. Run typical days without a phone is weird. Here, I want to share my notes on what has changed while my phone is away. I want to track down what things could be good if I totally off from my phone. I do believe there are good things about this. Day One: The time I realized my phone didn't respond to any instructions like restarting or total shut down, I went upstair

Hang in There, Sist!

I wrote this for something I post on my Twitter. It asked me to write a letter to myself. So, here we go. Uhm. It's a bit weird to write a letter to myself while me myself DO really know everything that's happened in my life. But while I realized sometimes we lie to ourselves, I think I might make a confession(?) about something. Dear Myself, Please focus on your goals. Focus on what's your doing right now. Do not procrastinate too often. You still have plenty of things to accomplished. So please be patient. One more. Do not feel thrilled or too happy whenever you watch your favorite tarot reading that speaking about love on Youtube. No matter how cute to hear they are. That love things are not our stuff :)) Please be real. Ha! That's all, I guess(?). I love you. []

Aku dan Dunia Senyapku

Jika orang lain tak bisa hidup tanpa hal-hal seperti ponsel pintar miliknya atau benda-benda memorable dari masa kecil, maka aku tak bisa hidup tanpa hearing aid . Iya, alat bantu dengar. Aku yakin belum banyak orang dari masa laluku yang—selain telah jauh berjarak dan jauh dari kabar—tak mengetahui bahwa kini aku adalah seorang pengguna alat bantu dengar. Aku mulai menggunakan hearing aid sejak tahun 2016, setahun setelah memutuskan mencoba jalan medikasi untuk gangguan pendengaran yang aku alami. Kala itu, aku yakin bahwa pengobatan medis takkan mengubah apapun. Aku merasa aku lebih membutuhkan alat bantu dengar. Ini bukanlah “penyakit” yang butuh diobati, melainkan kerusakan yang butuh ditangani atau diperbaiki. Jauh sebelum itu, hal yang mungkin dapat aku tunjuk sebagai “kambing hitam” adalah radang tenggorokan yang menyerang dalam satu tahun secara intens medio 2010. Efeknya tidak kurasakan di tahun berikutnya, namun beberapa tahun setelahnya. Hingga pada suatu petang, ket

Hey!

When you really want to write something, but you can't. Just can't. When the weather is good outside, but you choose to stay inside. You just don't want to see the world. When you said: I'm not that strong, I pretended to be one. You just confused who you  are  trying to  convince. When you wait for the cards to open up but yourself said otherwise. Just: no. In the end of the day, you just want to... :)

What I Have Learned

Dulu, aku pikir lawannya "cinta" adalah "benci". Ternyata bukan. The opposite of love is not hate, it's fear. Ini gak berarti menafikan benci, ya. Sebagai salah satu spektrum emosi, benci tetap valid, kok. Hanya saja, aku lebih sepakat soal "kebalikan dari cinta adalah rasa takut", ketimbang benci. Benci adalah salah satu manifestasi dari rasa takut. Misalnya, takut kehilangan, takut tidak dicintai (lagi), takut kecewa, takut gagal, dan lain-lain. --- Dulu, aku pikir orang yang marah-marah (atau abusif) dengan teriak-teriak itu sudah pasti emosian. Ternyata bukan. Mungkin, memang ada aspek behavioral  soal marah itu. Tapi, kalau orang marah dengan teriak-teriak, sebetulnya itu ekspresi dari rasa takut. Ya, mirip dengan poin sebelum ini. Orang yang teriak-teriak itu merasa berjarak dengan lawan bicaranya--walau jarak sebenarnya gak sampe satu meter 😂. Ia harus menaikkan intonaisnya karena ia takut perasaannya dianggap gak valid, takut argumennya tidak

Selamat Hari Kamu Sedunia! (Kapanpun Itu)

Kelak, kamu pasti bisa menemukan seseorang yang dapat memelihara percakapan, melahirkan tawa, merangkai doa, sampai berupaya menghapus air mata. Mungkin seseorang yang baru. Atau mungkin dia yang sudah selalu ada sejak kau kecil dulu. Suatu hari nanti, hal yang kau perjuangkan ini akan kembali padamu. Menjadi seorang dengan balutan "Kaum Seperti Kita" 🌈 di tanah ini memang tak pernah mudah. Tapi, pasti. Semua akan berpulang padamu. Dalam rupa karma baik, tentu. Jangan habiskan waktu tidurmu dengan terjaga terlalu larut, ya. Apalagi tenggelam terlampau dalam di samudera kekhawatiran sampai hari berganti pagi yang terlalu dini. Sulit berkata jujur memang karaktermu. Bukan tak bisa. Aku paham kau punya terlalu banyak pertimbangan untuk bisa mengucapkannya. Bahkan sekadar bilang "aku rindu" pada dia yang sudah lama kau bersamanya. Bahkan pada dia yang kau tahu kau pasti akan dapat balasan indah serupa. Kalau yang terakhir ini ada jaminannya, belajarlah menyampaikannya,

My Ocean of Silence

Image
  I do enjoy reading so much. Not because I am a smart person, but because reading gives me a quite room which I could drown without losing my breath. It calms me. It makes me forget about my life--even for a while. I've been away from my books lately, yes, it's called reading slump. I just-- I just can't read. I can't pick my books and read them. Let alone finished them. I think I even avoided them somehow. There are no particular reasons why I can't read. Well, maybe at first I had some problems that consume most of my thoughts. I just can't get rid them that quick. Or, maybe, I didn't want  them to go that quick. I cherished them inside my mind. I pleased them whenever they came but still hold the door open for them. And there it is, I even didn't notice when they were leaving. Then I was busy with my work, which makes me missed my books more. And oh, also blogging. I didn't even have time to watch Netflix, hahahah! I just starring at those pile o

Tentang Blogging

Umur blogku yang ini jauh lebih "tua" dari pada umur akun Twitter. Tapi tentu aku lebih banyak ngebacot di sana ketimbang di sini, wkwkwk. Alasannya lebih ke persoalan teknis aja: Twitter lebih praktis. Tapi tau gak, kenapa aku masih mau bertahan di sini? Pertama, kebalikannya dari Twitter: blog memungkinkan untuk aku menulis panjang--sepanjang apapun semauku. Tulisan panjang itu jelas tidak terinterupsi oleh batas karakter sehingga harus dipenggal menjadi beberapa bagian. Pengalaman membaca kadang keganggu karena hal begini. Untuk perkara piranti menulis, walau Blogger sudah menyediakan fitur aplikasi  mobile, hampir seluruh postingan di blog ini aku tulis dengan PC. Aplikasi Blogger tuh sama sekali gak asyik. Dan bagiku, aktivitas blogging sejati tuh ya pakai PC bukan pakai hape, hahahahah. *APADEH* Nah, beberapa waktu yang lalu tuh aku pernah sengaja kirim feed back  ke tim Blogger. Sebagai blogger lawas, ceritanya aku protes kenapa Blogger tuh gak upscale  dengan menyedia

I wish I had no birthday cake this year

Image
I had several plans for my birthday this year. I called it: 4 B's. But pandemic cancelled them all. Well, I actually still can work on the fourth B: (my) book. But, no. Everything swoop in a blink of an eye. I think I don't want to celebrate my birthday this year. Or, at least have good wishes like I did last year. A day after my first mental breakdown (finally I have to called it that way because I had terrible days and awful nights where I could crying out of nowhere--and it happened for at least four days in a row), I think my life was falling apart. I have to live another year with my miserable life so the birthday shouldn't be celebrated, but to be mourned. I am a person who love grand gestures. So much. My love languages are words of affirmations and receiving gifts. Imagine how happy I am on my birthday to be showered with a lot of delights in a day: genuine wishes and presents. I do, too, love to share gifts to the one I love. Yep. I love to spoiled someone I love.

Just Turned Down The Lights

I had those days full of laughter. I had those windy noon when the train arrived and the door was opened for me. I had the journey. I thought I had some company. Turned out, the park suddenly dark. I had " excuse me, may I borrow your smile for me?". Once, it felt so real. Well, it is real. What was love made out of fantasy?  Cupid added some clouds in it then it become lucid dreams. You are perfect for me. Then she puts her damaged soul--burn it away. Helplessly. --- Written on a breezy day while I was listening to one of my favorite song and waiting for lunch

Catatan Di Sebuah Pagi yang Terik

Image
 Kalian pernah dengar kalimat ini gak: "Orang baik untuk orang baik." Lalu, kalian percaya dengan kalimat itu? Ya, mungkin tergantung, ya. Kalau kalian sedang merasa baik-baik saja, kalimat itu bisa saja terasa sangat  relate.  Sementara kalau lagi gak baik-baik aja, kalimat apapun ( well, bahkan kalimat motivasional sekalipun) akan terasa bullshit , ya. :)) Aku sendiri percaya kalimat itu (tapi tidak sedang baik-baik saja, sih :))). Tapi, bagiku, mungkin konteksnya tidak melulu "orang". Person . It could be anything . Kerjaan. Rejeki. Lingkungan. Relasi dengan orang tua atau orang lain. Koneksi. Cita-cita. Whatever you named it . Beberapa hari yang lalu, aku melalui satu hari berat di mana aku rasanya ingin marah. Banget. Tapi gak bisa. Satu, lagi puasa (HAHAH, nga bole mara-mara apalagi menangys, bosque!). Kedua, I don't think I had quite much energy to raging on everything . Energiku dua hari sebelumnya itu sudah kudedikasikan untuk qerja qerja qerja bagaikan

Abah dan Yudi

Stasiun Kalibata malam itu telah basah. Berbeda ketika ia baru naik dari Sudirman tadi, baru mendung bergantung . [ Tukang makanan sudah tiba .] Pesan pendek dari Abah hadir menyambutnya yang sedang berjalan keluar stasiun. [ Abah makan duluan aja. Yudi baru turun stasiun ini. ] Ia membalas sembari berjalan pelan. [ Abah masih mau isya dulu , kok . ] Sama seperti dua malam sebelumnya, Abahnya berkenan menantinya pulang dan makan bersama. Abah sempat menawarkan diri untuk memasak untuknya, tapi tak ada supermarket di apartemennya. Apalagi pasar terdekat. "Abah masih bisa bikin ikan goreng, Yud", selorohnya ketika hari itu ia baru saja sampai. "Yah, walau mungkin tidak seenak punya Umi." Abah kemudian terkekeh. Setelah Umi wafat tahun 2014 lalu, Abah tinggal bersama Mbak Ratih, kakak tertuanya yang rumahnya tak terlalu jauh dari makan Umi. Rumah dan kebun Abah segera dijual, sebab Abah tak ingin menempati rumah itu sendirian. "Abah gak mau lah ngel

Drama Sebelum Tidur

Image
Ada yang lucu tiap kali tidur sama bocil-bocil ini. Iya, ada aja dramanya. Mau itu tidur siang atau tidur malem, mereka ini gak bisa langsung pules *gak kayak emaknya Bener, deh. Buat orang yang pelor (nempel-molor) macem aku ini, habit sebelum tidur mereka sungguhlah bikin pening. Aku ini hanya butuh dua menit untuk merem kemudian sampe ke alpha state . Sementara mereka, dikasih waktu setengah jam pun gak kelar-kelar ya Lord. Jadi kalo mau ngajak tidur nih, minimal spare  waktu satu jam sebelom batas jam tidur. Iya, sejam :))) Selama itu? Banget. Karena mereka ada aja yang dikerjain dan selalu minta extra time . Dikata maen bola apa gimana, malih? :)) Sebelum tidur aku selalu kasih warning  ke mereka, misalnya: nanti Bunda turun setengah jam lagi ya, guys.  Kelarin dulu main/baca/nontonnya sebelum Bunda turun. Maksudnya sih ya, nanti abis aku tutup laptop, kami langsung ke kamar lalu zzz... Itu ekspektasinya, sih. Wkwkwkwk. Dan yang dikasih tau mah iya-iya bae :))) Nanti setengah  jam

Untukmu, semoga kau makin kuat

Akhir Desember tahun kemarin. Aku dalam perjalanan menuju Senayan naik Trans Jakarta koridor 1. Sore tadi habis hujan, jalanan basah, udara lembab dan dingin. Pukul tujuh kurang. Semakin dekat halte terakhir (Blok M), penumpang semakin surut. Pun, bis semakin berembun karena sungguh dingin. Kita berbincang di fitur pesan sebuah sosial media setelah aku memberi respon dari cerita singkat yang kau unggah. Ceritamu, mengingatkanku pada milikku. Kau berbagi betapa sulit menata perasaanmu saat itu. Aku paham itu. Paham sekali. Aku mengenal kalian sebetulnya hanya selintas saja. Kalian pernah berkunjung ke rumah kami. Beberapa kali diceirtakan tentang kalian juga. Kalian manis. Ke mana-mana sering berdua. Banyak momen yang kalian bagi dalam situasi bahagia. Tapi, perkara hidup siapa yang tahu arahnya akan ke mana? Siapa yang menjamin kita akan selalu bahagia? Kini kau sedang asyik mendalami yoga. Kadang menyambangi sahabat-sahabatmu di sana dan bercengkrama. Kadang sibuk membesarkan toko dar

Move on, Alex!

Image
"I wrote a long paragraph last night." She sat in front of me and took a toast that already cold. "About Jo?" I asked her while still holding my book. She nodded while chewing. "This pain is too heavy to endure." I nodded too. Alex and Jo made two fabulous years of relationship. They looked fine. Everything seemed good. Until one day Jo said he wanted to leave. Not going anywhere but left from Alex. Since that day, Alex spent mostly her days in my dorm. She was doing everything except being normal. She cried a lot , r efused to eat and didn't be able to attended classes. All of her friends came by but then they gave up. They just didn't get it why it was that HARD for her to move along with her life . A life that quite delightful. You know, gold and glitters. She, actually, has them all. "But I just want to keep it myself, not give anyone a chance to read it." I guess she talked to me. "I don't want to read eith

Optimisme Hujan

Image
Malam tadi, Si Paling Kecil tergopoh-gopoh datang ke kamarku membawa serta bantal dan guling kecilnya: mau bobok sama Bunda. Baik. Seperti malam sebelumnya, hujan tetiba turun cukup lebat. Pas sekali sebagai suara latar sebelum tidur kami. Penyejuk ruangan sudah disetel normal sehingga niscaya sudah tidak bikin menggigil lagi. Kaus kaki sudah dipakai, botol minum tersedia di samping dipan, dan selimut sudah siap (jaga-jaga siapa tahu butuh diselimuti). Semua ada, seperti biasa. Kami berbincang sebentar, seadanya. Lalu saling mencium, memeluk, menghirup rambut, sebanyak-banyaknya. Sesekali tertawa, selepasnya. Lalu ia bilang: Bun, hujannya hilang . Aku menyahut: oh, bukan hilang, tapi berhenti. Hujan tak hilang, tapi berhenti. Di detik aku mengatakan itu, aku menyadari sesuatu. Kita memang tak pernah menganggap hujan hilang. Hujan itu hanya  berhenti . Kita meyakini hujan pasti akan datang lagi . Sebuah optimisme bawah sadar yang kemudian menjadi kepercayaan umum. Kita begitu beriman pa

Cerita tentang Kamu yang Sedang Suka Paus dan Hiu

Image
Pagi ini kalian berdua terbangun dengan piyama lengkap dengan kaus kakinya. Jakarta dan sekitarnya sedang giat hujan deras selepas siang terik yang menggigit. Semalam, kamu yang terkecil, lelap dengan dua lapis selimut di sampingku. Ini bukan hal biasa, tetapi lumrah karena penyejuk ruangan kita baru saja dibersihkan dua hari yang lalu. Ditambah dengan cuaca yang sedang basah-basahnya, dinginnya jadi luar biasa, Nak. Aku lalu teringat percakapan kita beberapa saat lalu tentang apakah beberapa spesies hiu dan paus yang kamu baca dari sebuah buku itu kini masih hidup atau tidak. Kita akhirnya berselancar mencari video footage hiu dan paus terbaru dari beberapa channel media luar negeri. Kamu takjub sekali mendapati beberapa spesies masih ada sekarang. Lalu tiba-tiba aku merasa harus bercerita soal perburuan paus di beberapa wilayah di negeri ini. Aktivitas ini berkontribusi pada berkurangnya kuantitas paus sebab ini adalah tradisi yang telah dijalankan sejak lama sekali.  Kita lalu meni

Andai saja

 Apa yang membuatmu resah untuk meninggalkan hidup? Jawaban orang untuk pertanyaan itu pasti beda-beda. Ada yang merasa belum bisa membahagiakan orang tua, sehingga maish ingin panjang umur sepanjang mereka masih ada. Ada yang punya agenda kemanusiaan yang begitu panjang sampai-sampai tak ingin mati sebelum semua agenda itu terlaksana. Ada yang masih ingin menikah, memelihara anak-anak mereka, dan menua bersama. Ada yang mau membangun mimpi. Ada yang sedang berupaya bahagia (kembali). Ada yang tengah mengejar cinta. Saya? Saya pengen nerbitin buku sendiri. Karena saya sadar saya bukan penulis-penulis amat, jadi ya pengen membuat semacam upaya pendokumentasian sehimpunan tulisan aja. Saya begitu menikmati tulisan saya sendiri. Bagi saya, beberapa di antaranya ditulis dan disusun dengan indahnya sampai rasanya saya perlu untuk membagikannya kepada beberapa orang lainnya. Engga, gak bagus-bagus amat, kok. Rada enak dibaca aja. Jadi, ketika ada beberapa tulisan yang "diperkenankan&quo

Kapan nulis (lagi)?

Image
Kapan terakhir nulis? Lupa. Bukan, bukan nulis yang macem begini . Tapi  nulis yang random. Nulis yang membebaskan, nulis appaun tentang apa yang ada di kepala, nulis tentang hari itu, nulis tentang yang terjadi minggu kemarin, nulis mengenai apa yang pernah terjadi beberapa waktu yang lalu. Nulis yang membicarakan diri sendiri. Menertawakan diri sendiri. Terakhir yang satu intonasi dengan tulisan model begitu ya pas curhat soal  jobless itu. Dulu, aku cukup sering nulis random begitu di sosmed. Tapi kemudian, ada hal-hal yang membuatku akhirnya harus berjarak dengan "panggung sosial media" sejenak. Ada masa di mana aku  begitu mengkhawatirkan persepsi orang lain. Ada masa ketika aku gak punya teman berbagi dan kehilangan "suaraku" sendiri, aku membaginya di sosmed. Tapi itupun terasa semakin salah. Mungkin tulisanku memang gak menarik buat orang lain. Lagian, sejak kapan kita harus nulis buat orang lain, ya kan? Mungkin itu alasan kita takut dicap melankolis, bape