Lelaki Harimau: kisah lelaki dengan dendam dan sakit hati


Picture of my own, from my IG story


It’s been a while since my latest post. So what I've been up to?
Well… I’ve spent half of the year applying for a job while I still did house chores like…yeah, you named it. But I kept myself read books—a printed ones—whatever I’ve been busy into, because…that thing keep me sane, for anybody’s sake.
Now I found that I’ve been away from my blog. I wasn’t update the blog with…anything. Literary anything for almost three fvckin months. Pfftt.
(Sounds like I’m as busy as any corporate slaves out there. *waving to all HRDs*)
Since then, I’ve read some books and they are fictions. Some of them are:
Khutbah Di atas Bukit. Belajar Mencintai Kambing. Bakat Menggonggong. Bagaimana Tuhan Menciptakan Cahaya. 24 Jam Bersama Gaspar. Lelaki Harimau.
(Do you realize that all of them were written by male authors? I’m gonna talk about this…someday. About why I feel so into them recently.)
This time, I want to review Lelaki Harimau, so let’s switch to Bahasa Indonesia. Ahem.

Oke, menuruku, tulisan Eka Kurniawan yang paling masterpiece ya Cantik Itu Luka yang kubaca medio 2003an *laughing in millenial voice*. Setelah khatam Cantik Itu Luka, lanjut lagi baca berturut-turut: Corat Coret di Toilet, Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas (bertahun-tahun kemudian, tentu saja), Cinta Tak Ada Mati dan Lelaki Harimau (LH).
Sebenernya aku sendiri lupa, sih, apakah waktu kuliah udah pernah baca LH atau belum. Tapi biasanya sih, aku jarang banget baca ulang fiksi yang udah pernah dibaca. Sebagus apapun itu.
Jadi… aku ceritain premis ceritanya dulu, ya. Dikit aja.
LH pada dasarnya bercerita tentang dua lelaki. Satu, Margio, anak yang “kerasukan” harimau putih yang membuatnya membunuh seseorang dengan cara yang mengerikan. Kedua, Komar, seorang lelaki yang abai pada (isteri dan) keluarganya hingga akhirnya dia mati dicekik rasa bersalahnya sendiri.
Tentang “harimau putih” sendiri, aku menafsirkan ia bukanlah binatang, melainkan satu bentuk perangai beserta dendam yang kerap mengintai dalam diri seseorang.
Seperti biasa, Eka tak pernah gagal memukau (setidaknya buatku) dengan narasinya yang runut dan runtut. Pun juga dengan latar belakang cerita di kampung dan relasi antar manusia di dalamnya. Tau kan, sense bercerita Pakde Kuntowijoyo atau Ahmad Tohari? Semacam itu.
Selain premis, hal lain yang memukauku adalah bagaimana Eka memilih alur berceritanya dari awal hingga akhir. Aku sendiri sampe ga sadar udah sampe di akhir cerita. Bahkan ga sempat berpikir atau menebak akhir ceritanya bakal seperti apa.
Hal lainnya, perspektif tokoh utama yang rasanya berganti secara halus. Pelan. Sampe ga bisa jelasin sebetulnya tokoh utamanya si Margio atau Komar—atau malah mereka berdua tokoh utamanya?. Lalu bahwa tewasnya Anwar Sadat yang terjadi secara anomali sejatinya adalah akhir cerita, bukan pembuka. Padahal, adegan itu disusun di awal buku. Bingung? Baca bukunya, ya!
Buku ini bisa dibilang jadi favorit karena aku ngerasa “paham dan dekat”. I feel close especially when he tells about family matters.
Sedekat pemahamanku bahwa sebuah keluarga secara psikologis terbangun dari pondasi relasi dua orang yakni: suami dan isteri. Ketika anak-anak hadir, tali relasi itu tetap ada dan bahkan sangat berpengaruh apakah nantinya keluarga ini bakal tetap “hangat dan intim” atau tidak.
Seperti waktu menyaksikan bagaimana si “harimau” perlahan-lahan hadir dalam tubuh Margio. Ingat, harimau ini adalah perangai buruk serupa sakit hati yang terlanjur mengakar dan berduri. Ia hidup dalam tubuh Margio dan menanti datangnya waktu untuk melompat dan menerkam “mangsanya” sendiri.
Dendam itu—sayangnya—berangkat dari bapaknya sendiri. Bertahun-tahun melihat dan mengalami ibunya disakiti oleh bapaknya sampai ibunya hampir benar-benar gila. Komar, lelaki yang tak mengerti bagaimana cara membahagiakan isteri (dan anak-anak)nya mulai merasa tercipta jarak yang begitu jauh antara mereka. Sampai mereka sibuk membenci dan lupa cara paling indah untuk mencinta.
Sejauh ini, aku belom pernah baca buku dengan “rasa” yang sama dengan LH ini. I can truly feel Margio’s anger. Also his painful heart for his mother. Juga rasa sakit pada tokoh-tokoh lainnya. 

Hats off, Mas Eka![]

Comments

Popular Posts

Melankoli Pandemi

Raden Mandasia dan petualangannya (a book review)

Klinik Permata Bintaro