Ave Maryam: kelindan cinta (ato nafsu?) antar manusia di tengah agama


Souce: here

Hari Minggu kemarin, gue berkesempatan nonton Ave Maryam. Ave Maryam ini konon film yang udah keliling di beberapa festival film internasional sejak 2018, baru kemudian membuka layar melalui bioskop ke penonton nusantara.

Rasa-rasanya dalam beberapa tahun ini, film-film berkualitas memilih untuk ikut festival film internasional dulu baru kemudian ngasih kesempatan penonton tanah air lewat bisokop. Ini bisa jadi adalah strategi pembuat film yang karyanya memang tidak ditujukan untuk industri film arus utama. Jadi alih-alih "cek ombak" di negeri sendiri, mereka justru langsung jemput bola ke berbagai festival film internasional. Soalnya mungkin sering "cek ombak" tapi yang ada malah dapet kontroversi. Padahal ketika ketemu festival film internasional, karya-karya itu masuk nominasi atau malah jadi pemenang.

Karena bukan jenis film arus utama yang bisa mengakomodasi banyak kategori penonton, maka Ave Maryam ini bakal gak lama dapet jatah layar. Gue ga tau Ave Maryam sanggup bertahan berapa lama lagi di bioskop sini. Soalnya, hanya berjeda dua hari aja, jadwal tayangnya berkurang cukup signifikan. Makanya tadi di bioskop cukup banyak yang nonton walau engga fully seated.

Beberapa hari sebelom nonton, gue sering baca cuitan orang-orang tentang betapa bagusnya Ave Maryam. Tentang akting Maudy Koesnaedi, tentang alur ceritanya sampai betapa cantiknya sinematografi sepanjang cerita. Pun, gue sempet baca ulasannya hari ini juga di Kompas.

Kalo cuma liat poster dan potongan adegan di filmnya, kita pun bisa segera tau bahwa Ave Maryam digarap dengan sentuhan sinematografi yang istimewa. Bukan hanya aspek visual, Ave Maryam juga dibangun dari pilihan tema yang tak biasa: nafsu yang bersisian dengan religiusitas.


Pict source: here.

Plot ceritanya sederhana. Suster Maryam tinggal di biara dan mengurusi suster-suster senior yang mulai sepuh, salah satunya: Suster Monik. Suster Monik punya anak angkat yang kemudian mengabdikan hidupnya sebagai romo: Romo Yosef. Nah Romo Yosef ini kemudian mulai mendekati Suster Maryam hingga mereka berdua makin dekat dan jatuh cinta.

Yang namanya cinta eh nafsu eh apa dah... itu memang takkan pernah berdikari. Pongah sendiri. Ia biasanya diikuti oleh banyak hal lain yang tumpang-tindih dan berkelindan di dalamnya. Walau manusia sudah dilengkapi dengan otak plus nalar yang dipasang secara permanen, tetap saja bisa "kadang-kadang tak ada logika" kalo kata Dek Agnezmo.

Dan ternyata, isu percintaan yang ada di Ave Maryam pun bukan hanya konflik antara Romo Yosef dan Suster Maryam saja. Bukan lelaki-perempuan semata. Selain bersinggungan dengan dedikasi pada ketuhanan, konfliknya juga berhadapan dengan institusi gereja dan relasi interpersonal dengan suster lainnya.

Dalam film, tidak ada adegan proses Romo Yosef sampai pada titik ia memutuskan jatuh cinta pada Suster Maryam. Tau-tau dia ngajak Suster Maryam keluar jam 8 malem aja gitu. Waktu awalnya ga digubris, dia malah makin militan sampe akhirnya ngasih surat BERKALI-KALI. Setelah interaksi dan usaha untuk ngajak kencan yang keenam *niat banget kan ya gue itungin* akhirnya Suster Maryam mau keluar biara untuk ketemu dengan Romo Yosef.

Tafsiran gue, film mencoba membingkai betapa jatuh cinta memang kadang tak butuh detail prosesnya seperti apa. Walau gue sendiri gak percaya dengan yang namanya "tiba-tiba cinta" seolah-olah itu 100% takdir dari langit. Sejatinya apa-apa yang terjadi pada manusia itu absolut berada dalam kendali diri manusia itu sendiri. You have all the power within you, you know. *ga ada yang nanya juga sih*

Selain itu, gue mempertanyakan juga konflik personal Romo Yosef sendiri. Sebab rasanya porsi konflik personal itu lebih banyak diberikan pada Suster Maryam. Sehingga seolah-olah rasa bersalahnya paling besar hanya dipapah oleh perempuan saja. Pun, banyak simbol-simbol keperempuanan yang masuk frame yang bikin gue berpikir memang aspek feminitas Suster Maryam sangat berpengaruh pada alur cerita ini.

Jujur sih, gue punya beberapa pertanyaan buat karakter Romo Yosef. Misalnya posisi Romo Yosef sebagai romo ini seperti apa, sih? Gini. Gue sebagai muslim kan ga ngerti juga ya seorang romo itu harus seperti apa. Tapi rasa-rasanya Romo Yosef ini terasa berbeda untuk ukuran romo. Let alone the appearance himself.

Atau, memang ukuran kesalehan secara tampilan dan perilaku orang seperti romo, suster, uztadz, kiai, memang tidak harus melulu seperti "orang suci", ya? *shrugged*

Walau untuk layar umum kali ini durasinya dipotong sekitar 10 menit, memang rasanya jadi terasa janggal ketika kita tau bahwa ada beberapa adegan yang dihapus. Seperti adegan yang menceritakan latar belakang Suster Maryam yang awalnya muslim. Setelah tau soal ini, saya jadi ingat adegan di mana Suster Maryam selalu pakai kerudung ketika menemui Romo Yosef (walau bajunya tetap gaun yang panjangnya tanggung).

Gue merasa beruntung bisa nonton film bagus macem ini. Layaknya waktu nonton Marlina, Si Pembunuh dalam Empat Babak itu yang bahkan lupa males mau kutulis resensinya. Berikutnya, Kucumbu Tubuh Indahku dan 27 Steps of May semoga bisa kesampaian nonton juga.[]

Popular Posts

Melankoli Pandemi

Raden Mandasia dan petualangannya (a book review)

Klinik Permata Bintaro