Posts

Showing posts from October, 2018

Near-window seat delights

Gue ga tau nama istilahnya, tapi gue menikmati banget duduk deket jendela mobil (atau bus, atau kereta). Dalam masa kuliah, gue biasa pulang-pergi Jogja-Jakarta pake bus malam. It was so calming and soothing back then. Karena amat sangat pfftt sekali kalo gue naek kereta (di mana stasiunnya ada di dunia bagian ujung yang laen), maka gue pilih bus malam yang pool-nya sedekat mungkin dengan rumah. Dulu blom ada Gojek ya guys , jadi abis ngebis, ya gue nyari ojek pangkalan. Pilihan gue adalah bus malam yang low budget dengan bonus kecoak kecil-kecil. Meski gue jengkel setengah mati, entah kenapa gue tetep balik pake bus itu hanya karena itu bus paling deket sama rumah. Yha, mungkin gue kena pelet. Kalo lagi balik ke Jakarta, biasanya kaum-kaum macem gue ini jadi lawan arus mainstream. Misalnya pas mau lebaran. Saat sejuta umat ngukur jalan Daendels dari barat ke timur, gue melenggang tanpa hambatan pada arah sebaliknya. Ini juga yang bikin gue kadang dapet kesempatan milih duduk

To bake or not to bake?

Image
This was the first cookies' packaging. I added the doyle paper for decoration. It is quite sweet tho. Well hello, people. Okay. I am not that well and I don’t want to say hello to everybody because… WHY SHOULD I HAVE TO? And did you notice that I wrote that first sentence not with a pleasant way but in plain, bored and not impressive at all? Did you? Ha? K, chill now. So apparently I don’t feel really okay. IDK either it’s because my PMS or I just deadly bored at home. Whatever it is, this time, I want to share my baking business story with you guys (as if I have tons of reader out there LOL). I started to sell cookies in 2016 when I was in Jogja. It was almond cheese cookies, my first homemade cookies. Yes, I never baked cookies before and that first time was came out good. I made it with best butter brand in town, almond as filling and topping (double almond, guys!) and edam cheese. It is buttery yet softly cheese flavour but so damn fragile that I have to carry

Kambing dan Hujan: sedikit ulasan

Image
“Kambing dan Hujan bisa jadi adalah salah satu roman millenial yang ditulis secara santun.” – aku, 2018 Alhamdulilah, kupanjatkan syukur ke hadirat Allah SWT sebab akhirnya Kambing dan Hujan khatam dibaca setelah…setahun kayaknya, ya. Huhu.   Begitulah hidupku. Tiap mau tenggelam berkonsentrasi nyelesain baca, salah satu dari dua balita itu tiba-tiba mendekat. Kalo yang kecil bisa dengan gahar ngerampas buku trus ditunggangi sama dia. Kalo balita yang rada gedean palingan kepo aja (tapi sampe nutupin muka, dong). Belakangan aku jadi agak keras kepala karena pas mulai baca lagi, udah lupa ama jalan ceritanya. Yaelah. Jadilah aku bertekad nyikat sampe kelar. (((nyikat))) Kambing dan Hujan adalah buku pertama Mahfud yang kubaca. Sebelum kenal Kambing dan Hujan, di rumah sebetulnya sudah ada Ulid. Buku itu bercover lama dengan gambar seorang perempuan ber tank top . Sempat diceritain ringkasannya tapi kok blom ngerasa pengen baca gitu. Dan hal pertama yang bikin pengen banget bac