Posts

Showing posts from 2018

Hanya membelikan anak buku bukanlah bukti Anda sedang tumbuhkan minat literasinya

Image
Don't you love this scene? (Pict from here .) Dulu waktu gue kerja di sebuah workshop advertising , gue berteman dengan beberapa ibu-ibu yang (sayangnya) ga suka baca buku. Katanya paling mentok baca majalah. Jadi di sana gue ga punya sparing partner ngegosipin buku mutakhir. Waktu gue tanya kenapa gak suka? (Salah satu) jawabannya: pegang buku tuh bikin ngantuk. YHA~ Karena semangat gue yang geday buat nularin virus ngegosipin buku, maka gue bawa beberapa buku dan majalah yang menurut gue bisa mereka sukai sebagai pembaca pemula. Buset. Umur tiga puluh baru “pemula”! Yeah, gapapa. Daripada ga sama sekali ya, kan. Tapi tau ga, yang gue heran adalah mereka lulusan strata satu, lho. Iya. Gimana mereka bisa “meluluskan diri” menulis skripsi tanpa baca buku cobak? Gimana caranya mereka membuat diri mereka paham materi kuliahnya tanpa membaca? Atau jangan-jangan mereka pegang buku hanya jika momen ujian dan skripsi aja? Ya, pantes sih kalo gitu, mah. Soal it

Lelaki Sepi yang Kembali

Jika ada seorang lelaki datang Dengan segenggam pasir di tangan Biarkan saja Ia hanya ingin singgah   Ia akan memintamu sebuah mangkuk Untuk menaruh pasir itu Maka ambilkan satu Mangkuk serupa beledu kesayanganku   Mungkin ia membawa satu anak penyu Lelaki setengah gila itu Yang ia simpan di saku celananya Bertahan sejak pantai selatan sana   Bila dia mulai bercerita, dengarkan sebentar Ia takkan lama Sebab biasanya lalu menangis Lalu teriak Lalu lari sambil bilang, Aku mau cari cari   Jika dia tak kembali, tutup pintunya Tapi jika ia menuju makam, maka pasti balik lagi Biasanya ia akan petik satu kuntum kembang sepatu Kemudian ke makam lagi Bernyanyi atau merapal sesuatu, entah tak ada beda   Bisa jadi lama ia di sana Lama sekali Tapi jangan tutup pintunya Ia pasti datang lagi Dengan wajah sedikit lebih waras Dan basah air mata   Kalau dia bertanya apakah Kau adalah suamiku Katakan iya sejak delapan tahun lalu Tak apa Itu memb

Near-window seat delights

Gue ga tau nama istilahnya, tapi gue menikmati banget duduk deket jendela mobil (atau bus, atau kereta). Dalam masa kuliah, gue biasa pulang-pergi Jogja-Jakarta pake bus malam. It was so calming and soothing back then. Karena amat sangat pfftt sekali kalo gue naek kereta (di mana stasiunnya ada di dunia bagian ujung yang laen), maka gue pilih bus malam yang pool-nya sedekat mungkin dengan rumah. Dulu blom ada Gojek ya guys , jadi abis ngebis, ya gue nyari ojek pangkalan. Pilihan gue adalah bus malam yang low budget dengan bonus kecoak kecil-kecil. Meski gue jengkel setengah mati, entah kenapa gue tetep balik pake bus itu hanya karena itu bus paling deket sama rumah. Yha, mungkin gue kena pelet. Kalo lagi balik ke Jakarta, biasanya kaum-kaum macem gue ini jadi lawan arus mainstream. Misalnya pas mau lebaran. Saat sejuta umat ngukur jalan Daendels dari barat ke timur, gue melenggang tanpa hambatan pada arah sebaliknya. Ini juga yang bikin gue kadang dapet kesempatan milih duduk

To bake or not to bake?

Image
This was the first cookies' packaging. I added the doyle paper for decoration. It is quite sweet tho. Well hello, people. Okay. I am not that well and I don’t want to say hello to everybody because… WHY SHOULD I HAVE TO? And did you notice that I wrote that first sentence not with a pleasant way but in plain, bored and not impressive at all? Did you? Ha? K, chill now. So apparently I don’t feel really okay. IDK either it’s because my PMS or I just deadly bored at home. Whatever it is, this time, I want to share my baking business story with you guys (as if I have tons of reader out there LOL). I started to sell cookies in 2016 when I was in Jogja. It was almond cheese cookies, my first homemade cookies. Yes, I never baked cookies before and that first time was came out good. I made it with best butter brand in town, almond as filling and topping (double almond, guys!) and edam cheese. It is buttery yet softly cheese flavour but so damn fragile that I have to carry

Kambing dan Hujan: sedikit ulasan

Image
“Kambing dan Hujan bisa jadi adalah salah satu roman millenial yang ditulis secara santun.” – aku, 2018 Alhamdulilah, kupanjatkan syukur ke hadirat Allah SWT sebab akhirnya Kambing dan Hujan khatam dibaca setelah…setahun kayaknya, ya. Huhu.   Begitulah hidupku. Tiap mau tenggelam berkonsentrasi nyelesain baca, salah satu dari dua balita itu tiba-tiba mendekat. Kalo yang kecil bisa dengan gahar ngerampas buku trus ditunggangi sama dia. Kalo balita yang rada gedean palingan kepo aja (tapi sampe nutupin muka, dong). Belakangan aku jadi agak keras kepala karena pas mulai baca lagi, udah lupa ama jalan ceritanya. Yaelah. Jadilah aku bertekad nyikat sampe kelar. (((nyikat))) Kambing dan Hujan adalah buku pertama Mahfud yang kubaca. Sebelum kenal Kambing dan Hujan, di rumah sebetulnya sudah ada Ulid. Buku itu bercover lama dengan gambar seorang perempuan ber tank top . Sempat diceritain ringkasannya tapi kok blom ngerasa pengen baca gitu. Dan hal pertama yang bikin pengen banget bac

Random post a.k.a ora cetho blas

Image
Grabbed from here. There were times when you want to post something to your blog but you didn’t know what to write. Zzz. So here I am, typing some words at fifteen to eleven PM alone, in front of a turned-off television (it is only on when the kids are “on”, btw). For me, life begins after ten PM. What am I gonna talk about? Hm. Oh well, I was wondering (or planning?) if someday I write a book. A book that, maybe not even exist in any section in book stores nor that interesting so people will buy it. But I want to. Really want to do it because…it has been my dream for ages, gosh. A book that I am gonna considered it as a gift for myself. It will picture almost everything draws in my life. It might be a reminder, a note, a memorable story, a poem from my journey, …a form of self-love. I have been in love with writings (and also blogging) for almost a decade ago. Been dreaming write my own book too since in college. But the thought of making this happen

Bumi Manusia, a book review

Image
Bumi Manusia hampir jadi buku nomer tiga di daftar buku yang gagal (tepatnya: sulit) gue selesaikan setelah Cala Ibi dan Max Havelaar. Ga ngerti, deh, Bumi Manusia ini kok jauh dari ekspektasi gue kalo dibandingkan dengan Gadis Pantai—my Pram’s all time favorite . Berkali-kali putus-nyambung, overlap sama beberapa buku laen, mencoba baca lagi dan rasanya susah banget menghidupkan soul -nya sampe bisa khatam smoothly . Ya mungkin salah gue juga, sih, over expectation . Tapi, coba, ya. Bumi Manusia ini buku paling populer di rangkaian tetralogi Pulau Buru, loh. Mungkin karena buku pertama sih, ya. Di Bumi Manusia karakter Nyai Ontosoroh dan Minke sangat kuat sementara Annelies yang why-she-should-be-like-that banget. How can Nyai has a daughter like Annelies, why? Emang kenapa? Menurut gue dia over manja, cheesy, and sorry to say: beyond alay. Kalo kata laki gue sih itu karena nyokapnya yang keras ke dia. Ini bukan spesifik soal karakternya dia, tapi lebih ke sikapn