Posts

Showing posts from December, 2017

The Girl on The Train--book review

Image
I am currently addicted to thriller novels. The book I recently finished to read was The Girl on the Train (TGT). This is the second book after The Husband’s Secret . And I would like to have another one like them. What I love about thriller novel is the fast pace, the twists and that kind of something that could make me read near couple hundreds page in a day. It made me wondered about how the story would be ended, thinking whether who the suspect is, and how did the murdered happen. It is filled up my mind all day long. So TGT basically is a story about a murdered of a charming lady, Megan Hipwell, a wife to Scott Hipwell. She founded died mysteriously burry in an awful condition during rainy days. Meanwhile, Rachel Watson, a woman who struggles with her alcoholic issue, claimed that she knows something about Megan which could be helped the investigation through her death. The interesting point is, Rachel was recognized Megan because their house—Megan and Sco

Catatan Penanda Pagi

Aku membayangkan hidupku sebagai seorang perempuan dan ibu rumah tangga yang kesehariannya sibuk dengan banyak hal. Sibuk dengan pesanan kue-kue lezat, sibuk mengantar anak-anak sekolah, sibuk memasak untuk mereka. Saat petang, aku sibuk dengan kehangatan antara ibu dan anak-anaknya. Di akhir pekan, kami akan pergi menghabiskan waktu bersama. Mungkin juga jajan es krim favorit. Atau membeli seiris cake cokelat yang sebetulnya bisa kubuat sendiri. Pada liburan yang agak panjang, kami akan mengunjungi saudara-saudara yang rumahnya cukup jauh. Tentu kami juga akan menginap di rumah Eyang untuk satu-dua malam dan merasakan masakan Eyang Putri yang selalu kami tunggu. Semua bergembira. Malamnya semarak suara anak-anak mereda. Tubuh-tubuh mungil itu mendekap Eyangnya mesra. Ada satu momen yang sangat kami nantikan di antara hari-hari selama satu tahun: Idul Fitri. Selama sebulan, hidupku akan jauh lebih sibuk. Aku akan bangun di sepertiga malam dan memasak sahur untuk

Love is On Our Menu

Image
I want chocolate. A big shiny bar with your lips flavour in it. I want chocolate and a cake. A fluffy slice contains your hugs in our bed. I want tea, bitter but lighter. I said I wanted to stargaze sometime. So that I could slip my hands into your arms. I would drive you home, even if it's two hours long. I want our wit talk never ends. About your favorite places, your favorite authors. About the way you love me. About how I would spend the rest of my life. Then you pretended asleep. The room filled with laughs and tickles. I want small cotton candy. A blue one with a moustache grip. We'd shared and talked with our mouth full. I want ice cream. A warm one that could melt my ex's heart. I want something tasty. Like your cheesy jokes when we were first met. Like your hopeful song, you wrote for me dearly.[]

Rantai di Kaki

"Jadi yang namanya komunitas sosialis itu, seperti yang sudah-sudah..." Diskusi yang baru saja dimulai berlangsung ramai. Seseorang bertanya dan seorang lagi yang duduk jauh dari pembicara menimpali. Aku membuang pandangan ke luar sana, di mana sinar mentari masih gagah di pukul tiga sore ini. Musim panas hadir kembali. Kemarin Bapak menelpon dan bilang sebagian sawahnya mulai digerogoti hama jenis baru. Padi yang sekarat karena hama adalah biasa, namun bagaimana Bapak berjuang untuk menyelamatkan hamanya itu yang jadi persoalan. Ibu jelas tak bisa membantu lagi. Sementara yang mereka punya di kota ini hanya aku dan adikku.   "Mbak, sego kuning e siji." Aku tersentak. Di dalam semua tertawa riuh sekali. Aku berjualan makanan secara ilegal; tidak berijin pada pihak fakultas dan keliling saja sesuka hati. Tiap hari yang kubawa ada sekitar lima puluh jenis kue basah dan makanan yang kubeli dari pasar pagi. Tiap jenis makanan memberi laba antara 500 sampai 1500 r

Aplikasi Seru di Android

Belakangan ini saya lagi mengurangi waktu yang biasa dihabiskan untuk berselancar di media sosial. Cuma semacam "puasa" gitulah. Saya mah ga alergi, kok, hanya ingin mengurangi frekuensinya saja. So it was started when I realized there were been so damn much time of procrastination. Sometimes I found myself become so cranky in a point that my kids interrupted my scrolling time. Cih, ibu macam apa aku ini? Beside, there are annoying persons I unhappy to see on social media. Menurutku, terlalu intens terpapar media sosial juga ga sehat. Selain alasan procrastinate dan time wasting , apa sih enaknya ngeliat hidup orang laen mulu? Atau, say, what is the point of become an open book in social media? *preach like a pro, blah* Sejauh ini awalnya aku sibuk Yutupan *eman kan ya kuotanya kalo ga dipake, wkwkwk*. Malama bocen ea qaqa. Selaen bingung juga, yakali ujung-ujungnya nonton vlogger kekehan wektu idup orang laen juga? So, I decided to try