#GirlBoss: When S**t Happens But You Keep Walking

"Ive been a drop out, a nomad, a thief, a shitty student, and a lazy employee." - page 7
Awalnya baca #GirlBoss karena terpantik judulnya yang agak “provokatif”—in a good way. Semacam ada spark of feminism di judulnya. Iyalah, kata “girl” dan “boss” itu kadang dianggap sebagai dua terma yang berbeda. Sebab dalam dunia patriarkal, yang namanya “boss” itu biasanya male oriented. Jadi menjejerkan dua kata itu menurutku menimbulkan rasa yang khas feminis. So that was my first impression about #GirlBoss.

Menurutku Sophia Amoruso menulis #GirlBoss dengan sense yang rada nyeleneh. Bahasa tulisnya blak-blakan. As she gonna write “A” if that was she wanted to say. She gonna write “stupid” if that was she wanted to say. Dari sini, rasanya sudah cukup terlihat karakternya dia seperti apa.

So basically, #GirlBoss was talk about her online store named NastyGal. No, I never heard that before. No wonder because the online store was first appear on eBay. Sementara aku paling banter belanja di Lazada, ngahahah.

The story started when Amoruso ran out of money. She was forced by her condition to make money. Guess what the condition is? Yeah, she was infected hernia. Halah. Gak keren blas og, Mbak.

But the moral lesson is: we always can do it IF WE HAVE TO DO IT. Iya kan? Apa-apa yang terpaksa itu memang memungkinkan kita untuk melaluinya. Yang tadinya gak bisa jadi bisa. Yang tadinya gak mau jadi mau. We had to move our fucking ass or die trying. 

So long story short, the business runs good. Of course with a little drama here and there. Tapi yang bikin ueg terpana dan terpesona adalah latar belakangnya si Amoruso ini. Kalo anak dari orang tua yang tajir dan udah established with their business mah standar, ya. Sementara Amoruso ini dari kecil tengilnya minta ampun, a kid with ADD, somehow rise in a lower class family *duile, Marxis banget ini?*, dan kerap dilihat sebagai murid yang gagal oleh gurunya.

Keberhasilan Amoruso menurutku bukan semata-mata karena kerja kerasnya dia aja. Layaknya jodoh, rejeki adalah sebuah perjalanan panjang. Jika saja orangtuanya tidak encourage dia untuk tetap maju, tetap menjadi dirinya sendiri, Amoruso mungkin besar menjadi perempuan minderan dan pesimis. Kalo udah pesimis ya gak bakal mau struggle nyari peluang, kan? Maybe she will taken for granted every single things she has in life. 

Menurutku buku ini lebih bertendensi sebagai buku biografi ketimbang buku bisnis. Aku jadi rada nostalgia jaman masih membesarkan online store yang itu tuh. Dan #GirlBoss meyakini bahwa jika mau menjadi besar, kita pasti bisa. Apapun tantangannya. Sebagian orang-orang yang street-educated kadang selalu punya semangat yang lebih tinggi. Mereka risk taker yang menganggap hidup ini ya harus diisi dengan maksimal. Tak peduli apakah kamu punya titel atau tidak.
 
Duh, kalimat terakhir bikin baper, ih.[]

PS: p
icture above was grabbed from here.

Comments

Popular Posts

Melankoli Pandemi

Raden Mandasia dan petualangannya (a book review)

Klinik Permata Bintaro