Posts

Showing posts from 2013

Escape to Cirebon-Pekalongan (part Cirebon)

Image
Aroma liburan akhir tahun masih berasa, ya? Anak-anak sekolah sudah mulai libur sejak semingguan lalu. Yang bekerja sudah mulai ambil cuti. Momen akhir tahun kadang menjadi titik rehat yang selama setahun menjadi rutinitas. Saya dan keluarga kemarin sempat having a little escape juga. Saya sebut demikian karena memang sengaja menyempatkan diri untuk “pergi sejenak” dan mengambil dua-tiga hari di antara jadwal bekerja (buat mereka yang bekerja hehehhe). Bukan liburan sih, sebab ya itu tadi, cuma a little escape during work :D Jadi tempo hari itu saya dan suami rembugan mau escape ke mana. Karena saya lagi bunting dan tidak bisa pergi terlalu jauh dengan mobil (dan takut naik pesawat), kami memutuskan untuk escape ke Cirebon. Tadinya tidak mau pergi ke mana-mana, tapi karena si Akung tidak punya waktu banyak selama akhir tahun, jadinya disempat-sempatkan pergi. Mumpung saya masih bisa diajak jalan-jalan juga hehehe… Nah setelah rembugan bersama semua anggota keluarga, diputuskan

Cerpen gak-tau-mau-dikasih-judul-apa

Kayla Ini sudah yang kesekian kalinya. Bram tak datang lagi. Kayla mencoba sabar. Ditariknya nafas perlahan dan membereskan tumpukan quotation. Di sini--di dalam dadanya--ada gemuruh badai nan hebat. Ia kecewa. Bram Bram terdiam. Ada yang salah, gumamnya. Ada yang salah pada hubungannya dengan istrinya. Namun entah kenapa, ia memilih untuk berhenti memikirkan Lusi, istrinya. Bram-Lusi [dua bulan yang lalu] "Kamu engga usah bersikap seolah-olah kamu ksatria, Bram!", Lusi membentaknya melalui telepon. Mereka bertengkar lagi. Berselisih paham lagi. Lusi begitu murka ketika Bram menyuruhnya mencari pekerjaan lain selain sebagai executive director di sebuah perusahaan marketing research . Sementara Lusi merasa posisinya saat ini adalah sebuah self achievement baginya. Sebab ia adalah seorang life achiever --setidaknya begitu yang dikatakan lembar hasil test IQ-nya dulu. Sementara Bram, ingin Lusi mulai memberi kelonggaran pada pekerjaannya. Pada kariernya. Bram merasa kari

Marriageable: batas tipis menikah dan cinta

Image
Buku ini sebetulnya dibeli sudah agak lama. Tapi lalu “terbenam” oleh buku-buku baru lain yang kelihatannya lebih menarik dan ringan untuk dibaca. Marriageable ini cukup tebal untuk sebuah novel. So instead reading a thick book, I rather choose the thin ones hehehe… Sampai akhirnya buku-buku yang lebih tipis itu sudah habis dibaca. Oh, kecuali Amba dan Pulang yang masih waiting list (maap yah). Setelah coba melihat-lihat rak buku kembali, ternyata saya sudah pernah coba baca buku ini beberapa halaman. Entah kenapa waktu itu tidak diteruskan. Dan proses membaca kembali sebetulnya tidak begitu menyenangkan karena dua hal. Pertama, harus recall kembali ingatan akan isi buku jika mau langsung lanjut ke halaman berikutnya. Sementara kedua, kalau mau afdal ya harus turn back to page one *sigh* Karena saya pengangguran sedang banyak waktu, akhirnya meluruskan niat untuk mengkhatamkan novel ini dari halaman pertama (lagi). Overall, I gave 3 stars of 5 on Goodreads. Novel ini secara ge

Melek Huruf dan Budaya Literasi

Angka buta huruf di Indonesia konon menurun. Dengan makin bertambahnya melek huruf di Indonesia, mestinya jangkauan budaya literasi juga semakin luas. Tapi nyatanya tidak juga. Orang yang sudah melek huruf bahkan mendapat kesempatan sampai pendidikan tinggi pun bukan jaminan tingginya minat baca. Sebuah hal yang kontradiktif. Menurut situs ini , melek huruf didefinisikan sebagai persentase penduduk usia 15 tahun ke atas yang bisa membaca dan menulis serta mengerti sebuah kalimat sederhana dalam hidupnya sehari-hari. Ini jelas sebuah definisi yang terlampau sederhana untuk melihat apakah melek huruf di Indonesia bisa untuk mengukur seberapa tinggi budaya literasinya. Mungkin kita sudah kerap mendengar kalimat ini: kemajuan sebuah bangsa diukur dari indikasi kemajuan penduduknya. Salah satunya melek literasi. Kalau mau dimaknai secara singkat, melek literasi sejatinya adalah kondisi keterbukaan diri akan berbagai informasi dari banyaknya media yang ada. Tapi hal ini tidak mencer

Sekolah, Pekerjaan Rumah dan Tugas Orang Tua

Belum lama ini saya join grup BBM (BlackBerry Messenger) khusus orang tua murid di kelasnya Chiya. Informasi yang saya dapat antara lain info PR, kegiatan, dan pengumuman-pengumuman. Karena saya tidak bisa antar-jemput Chiya (selain itu saya bukan tipe ibu yang rela sebagian waktu digunakan hanya untuk nungguin anaknya sekolah), jujur saja saya merasa banyak terbantu karena join grup itu. Saya jadi update info terbaru, sampai keluhan-keluhan para ibu soal PR dan ulangan. Sebagai informasi, Chiya tidak bersekolah di sekolah negeri. Kebijakan yang memprioritaskankan anak usia tujuh tahun untuk sekolah di sekolah negeri, membuat Chiya (yang kala itu masih enam setengah tahun) harus mencari sekolah swasta. Sekolah swastanya pun bukan sekolah yang mengadaptasi kurikulum internasional blablabla. Sekolah itu adalah milik yayasan institusi militer yang kami pilih karena dekat dengan rumah. Selain itu, sekolah ini hanya bergabung dengan TK saja. Tidak dengan jenjang SMP apalagi keroyokan den

Klinik Permata Bintaro

Image
Sekarang mau cerita-cerita soal Klinik Permata Bintaro, ah. Klinik yang belakangan jadi tempat andalan ketika keluarga kami sakit. Awalnya dulu kenal klinik ini karena rekomendasi bidan waktu kami konsultasi program hamil. Dikasih tahu, bahwa di sana ada dokter kandungan perempuan, muslim dan menurutnya bagus. Telaten, katanya. Ya wis, ketika ada waktu, kami mulai menuju TKP. Waktu itu kami cari-cari klinik itu, ketemu. Tidak jauh dari STAN. Karena belum mau periksa dan hanya survey lokasi dulu, difoto-foto lah itu plang yang ada jadwal praktek dokternya dong. Pas udah niat mau ke sana, eeehh, kliniknya tutup bok! Bukan tutup dalam arti sedang tidak praktek, tapi beneran kosong. Plangnya hilang, rumahnya kosong. Wah, bangkrut jangan-jangan.. :p Lemes yah, udah niat mau ketemu si dokter, eh belum jodoh. Ya sudah, karena kami tidak ngoyo banget, klinik itu pun terlupakan. Sampai akhirnya, kami menemukan kembali klinik itu di tempat yang baru. Dekat dengan perempatan menuju Bintaro Pl

Kembali ke dapur ^^

Image
[Mau resep yang lain? S ila cek Cookpad saya , ya.] Masa bed rest yang lumayan membosankan dan nafsu makan akan nasi putih hangat yang melambai-lambai selalu membuat saya terkadang harus ke dapur untuk masak-masak lagi. Sebetulnya saya bukan tipe yang suka masak (apalagi tukang lauk matang siap wira-wiri depan rumah hehehe). Tapi ya itu tadi, tiba-tiba senang makan nasi, mau tidak mau lauknya harus bervariasi. Kalau sedang merasa fit dan kuat, saya belanja sayur ke depan dan masak-masak. Maklum yes, hamil kali ini membuktikan kalau faktor U sangat berpengaruh pada kondisi badan -______-" Nah, karena nasi putih hangat itu paling cocok jika disandingkan dengan lauk kering dan lauk pedas, saat ini saya mau share resep telur balado a la bumbu Bali, sayap ayam bumbu kecap dan tempe-tahu bacem. Kebetulan tiga masakan ini ada fotonya, jadi yang dishare ya tiga resep ini deh. TELUR BALADO A LA BUMBU BALI kenapa ada "a la-nya" segala? Karena saya sendiri tidak yakin in

What's wrong with your life, ladies?

Entah saya yang lagi sensi berat atau memang perempuan itu seneng banget bikin orang kelihatan terluka karena ucapannya, ya? What I’m trying to say is: please stop make judgment. Whatever it is.   Konteksnya? Klise: ibu rumah tangga dan ( should I follow them to add “versus” ?) ibu bekerja. Kenapa klise? Karena di mana-mana saya pasti nemu perempuan yang sinis berkomentar tentang itu. Kalau ia ibu rumah tangga, berkomentarnya tidak jauh dari: buat apa punya uang banyak tapi keluarga terlantar? Jika ia ibu bekerja, kira-kira seperti ini: itu ijazah buat apa kalau tidak dipakai? Atau kalo saking kurang kerjaannya, suka bawel nanya ke orang yang ga begitu dekat tentang kapan nikah. Kapan hamil. Atau kapan nambah anak. #pfft I”ll tell you, I was a stay at hom mom and once I had a fabulous experience to be a working mother. And now (yes, NOW) I’m being a stay at home mom again. And if you asked me whether I had to choose one of them, I’ll say: both are great roles. You’ll never kno

Hamil [lagi]!

So, I'm pregnant again. Kali ini memang sudah lama dinanti :D. Jadi waktu itu saya merasa sedang dalam fase PMS ( pre menstrual syndrome ), tapi kok ada beberapa gejala sebelum mens yang tidak muncul ya? Karena siklus mens saya sudah mulai teratur dalam empat-lima bulan terakhir, saya mulai curiga meski masih cuek. Soalnya, sebelumnya ketipu juga. Saya kalau mau mens pasti mual. Mirip kayak orang hamil kan? Nah, kali itu saya masih cuek, sampai telatnya sudah mendekati seminggu. Tapi dalam hati merasa sepertinya saya hamil. Saya sempat pakai test pack, tapi hasilnya ga valid karena saya tidak pakai cawan dan saya basahi begitu saja waktu pipis, hahahaha... Jadinya itu test pack basah sampai separuhnya. Lalu ketika kami melewati toko obat, suami bilang: "sana gih beli test pack lagi. Tapi sekarang kamu yang beli, siapa tahu kalau kamu yang beli positif." (Logika dari mana coba? -_____-') Akhirnya saya yang turun dan beli itu test pack. Beli dua sekalian dan minta y

Are you dare enough to dare yourself?

Judulnya semoga merepresentasikan isinya, ya. Jadi saya mau cerita yang temanya tidak jauh dari "rumput tetangga lebih hijau". Beberapa orang pasti ngerti dan kenal betul kalimat itu.  Punya role model kan? Entah itu orang terkenal, teman sendiri, orang tua, whoever ... Minimal pernah mengagumi orang lain atau dengan tak tak sadar bergumam:  enak banget ya hidupnya... Saya? Sering. Role model? Banyak. Ngiri sama hidup orang? I would say, yes sometimes I feel it too . Masalahnya, merasa bahwa rumput tetangga lebih hijau itu kadang lebih sering ketimbang menerima dengan lapang dada bahwa rumput sendiri (mungkin) tidak sehijau tetangga. Padahal belum tentu, lho... Bisa saja sebetulnya jenis rumputnya sama, tapi view dari jendela rumah kita membuat rumput tetangga way greener . Atau, memang jenis rumputnya sama, bedanya tetangga merawat dengan telaten sementara rumput sendiri kerap terabaikan. Jadinya fair kan, kalau rumputnya dia memang lebih hijau?? Ah, sebetulnya

Cinta Setengah Tiang yang tidak setengah hati. Dan manis.

Image
Kalau ada penulis yang suka menulis dari perspektif cinta yang sederhana, salah satunya pastilah Ieda Teddy. Aktif ikutan FF ( fan fiction ) dan berpuisi di timeline -nya membuat kemampuan berbahasanya yang (menurut saya) menjadi begitu khas. Kalau memperhatikan timenlinenya, Neng Ieda ini selalu ngetweet dengan bahasa yang lembut, even she’s on a bad mood ! Buku pertamanya, Cinta Setengah Tiang yang diterbitkan secara indie , adalah buku kumpulan cerita pendek yang sebagian di antaranya adalah beberapa tulisan yang pernah diunggah ke Tumblr-nya. Di bukunya ini, kebanyakan cerita berangkat dari setting cerita yang sederhana, cenderung menggunakan frame kehidupan sosial seperti kisah waria, pelacur, dan potongan kecil cerita orang-orang miskin. Walau setting yang dipakai mirip-mirip, Neng selalu memilih inti cerita dari angle yang berbeda-beda. Misalnya, dalam cerita Tuhanku Selaput Dara dan Kutang Merah yang keduanya berkisah mengenai kehidupan pelacur.  Selain itu, Nen