Posts

Showing posts from 2011

Life as a journey

Image
Saya baru saja menempuh sebuah perjalanan panjang tempo hari. Perjalanan yang hampir separuh lebih umat muslim Indonesia ikut melakukannya. Mudik. Ritual pulang ke rumah dan membawa nostalgia masa lalu. Tapi bukan itu yang mau saya bahas, yang ingin saya bicarakan adalah esensi perjalanannya. Entah, kadang saya begitu merindukan sebuah perjalanan. Kinda miss a very long trip or just a short vacation. Tapi yang saya rindukan justru perjalanannya, bukan tujuannya. Jadi, seandainya saya akan melakukan sebuah perjalanan untuk berlibur, bagi saya hal yang paling menarik justru bagian perjalanannya, bukan saat sampai tujuan dan liburannya. Entah kenapa, saya begitu menikmati duduk di pinggir jendela dan melamun. Mengamati kehidupan di luar sana. Menikmati posisi saya sebagai penonton semesta ini. Ada tempat-tempat yang saya sukai ketika saya berada di pinggir jendela. Misalnya, pasar. Bagi saya pasar di sebuah kota kecil merupakan jantung perekonomian. Meski bukan mall dan hanya beberapa

Bocoran Menu untuk Bekal Sekolah

Image
[Mau resep yang lain? S ila cek Cookpad saya , ya.] Here we go !! This is my favorite part . Dulu, waktu masih full time mom saya amat mendambakan momen di mana saya harus memasak dan menyiapkan bekal untuk sekolah Chiya. Juga momen mengantar-jemput. (Kecuali rumpi sama ibu-ibu yaaa... Itu pengecualian.) Dulu, selama Chiya belum sekolah (sementara semangat ini menggebu-gebu), saya senang mengumpulkan buku-buku resep khusus cemilan untuk anak-anak atau resep-resep bekal sekolah. Sampai sekarang, ada sekitar 4 atau 5 buku resep. Dan saya sukaaa sekali! Suka bolak-balik bukunya, bukan masaknya, hahaha! Sebab, kalau mengamati perangai Chiya yang kerap “uek” kalau ketemu makanan (terutama yang fully fat atau dairy product ), saya agak tidak PD untuk masak makanan yang ada di resep-resep itu. Takut dia “uek”, hehe... Nah, untuk kali ini, tidak ada ampun, deh. Saya mau tak mau harus mencoba resep-resep itu dan Chiya mau tak mau dibawakan bekal dengan menu “aneh-aneh”. Yah, kami sama-sam

Chiya's First Day School (part 2)

Saya masih semangat membahas tentang first day school theme ini. Serunya gak habis-habis, hehe... Kali ini, saya mau membahas tentang sekolahannya Chiya. TK itu bukan sekolah mahal yang orientasinya global whatsoever . Sekolah itu merupakan sebuah sekolah sederhana jebolan sebuah yayasan Islam lokal di daerah Pondok Betung (Tangerang Selatan). Kami tertarik karena satu kelas hanya diisi 15 orang anak dengan 2 orang guru. Sementara di TK sebelah (yang nyaris jadi TK paling populer sejagad Pondok Betung), satu kelas diisi sekitar 40-an anak dengan dua shift jam masuk. Gile kan? Selain itu, playground space -nya sempit sekali. Bayangkan saja playground di sepetak teras rumah kecil. Dengan kuantitas anak sebanyak itu, saya ndak bisa bayangkan bagaimana nanti Chiya bermain dengan teman-temannya.   Pertimbangan lainnya adalah: hari Sabtu libur. Meski, jam pelajarannya jadi lebih panjang dari jam reguler TK lain. Chiya masuk jam 8 (tapi jam tujuh lewat sudah berangkat dan di sana sudah ramai

Chiya's First Day School

Image
Well, my lil daughter is getting big . Salah satu parameternya tentu saja: sekolah. Sebuah institusi formal yang bisa membuat seseorang menjadi “dewasa” karena educated . Dan dia, sudah jadi “anak besar Bunda” sejak dua hari yang lalu. Saya sendiri tidak begitu “ngeh” kalau dia benar-benar jadi anak sekolahan sampai hari Minggu kami serumah riweuh menyiapkan perlengkapannya untuk pergi ke sekolah. Haha, engga juga sih... Kalau ditanya, memang perlengkapan sekolahnya apa saja sih? Jawabannya: hmm... apa yaa?? Soalnya, tas sekolah, dia masih punya dua tas baru hadiah ulang tahun dan satu tas yang dipakai untuk belajar tiap hari. Alat tulis seperti pensil warna dan tempat pinsil, juga sudah ada. Lemgkap ada di tas belajarnya itu. Dan semua masih layak pakai. Sepatu, sudah dibelikan jauh-jauh hari dan sudah pernah dipakai. Jadi, tidak bisa dibilang baru juga kan?   Entah kenapa, dia begitu bersemangat ketika dia tahu hari Senin besok adalah hari pertamanya bersekolah. Momen itu mengingatk

Untitled

Awalnya, karena saya jengkel. Jengkel dengan negeri ini. Negeri yang sesak oleh orang-orang. Orang-orang yang tipikal. Kenapa orang-orang yang tinggal di jalan gang sempit itu bisa santai dengan knalpot motornya yang bising? Kenapa mereka santai bikin judgment tentang keimanan seseorang—sementara dalam undang-undang sudah jelas-jelas tertera bahwa memiliki agama atau kepercayaan adalah bagian dari hak asasi manusia? Klimaksnya, kenapa mereka bisa mencintai dan freak dengan gadget sementara fase literer tidak pernah mereka lewati? This is a very big mark question. There’s a missing link.   Saya tidak dibesarkan dalam lingkup kultural yang membuat saya sadar betapa pentingnya “melek membaca” sejak dini. Saya mencintai aktivitas ini dengan begitu saja. Ketika BOBO adalah “surga”bagi saya. Ketika komik jepang dan majalah remaja begitu membius saya. Namun saya tak pernah belajar bahwa aktivitas ini merupakan fase yang harus dialami tiap manusia beradab. Jika memang ia ingin menjadi berada

all about birthday presents...

Suka merasa bingung, waktu mau ngasih kado buat anak tetangga, anak temen kantor, atau teman sekolah anak? Saya sering. Dan kemarin waktu ke iseng-iseng ke toko buku, saya dapat tulisan soal hadiah ulang tahun sesuai usia anak. Tapi ternyata isinya standar, hehe... Di sini saya hanya ingin berbagi all about gift stuff yang saya dapat dari pengalaman saya memberi kado juga pengalaman Chiya waktu dapat kado ulang tahun. Semoga cukup komplit dan membantu yaa... Kadang, kita bingung dengan dua jenis hadiah: yang seperti souvenir atau yang useful ya? Kalaupun hadiah tanda mata, yang seperti apa? Kalau yang useful, juga seperti apa? Yang lebih membingungkan adalah persoalan budget (iya kan, mommies?). Ingin memberi yang bagus, tapi kok mahal? Padahal kita ingin memberi hadiah yang kesannya istimewa. Pentingnya hunting Jika ingin memberi sesuatu yang spesial, ada baiknya spare time untuk hunting hadiah. Siapa tahu, dapat yang bagus namun tidak terlalu mahal. Siasatnya? Mengingat hari u

simple guidance for your simple goodie bag

Image
Biasanya, momen ulang tahun anak adalah suatu momen yang membahagiakan. Sebagai ibu, bertambahnya usia anak, juga berarti bertambah pula tantangan kita sebagai orang tua. Di satu sisi, kita bahagia karena sudah “membesarkan” anak sampai sekarang. Di sisi lain, agak murung soalnya, itu juga pertanda kita tambah tua. Agree? Nah, soal ulang tahun, kadang kita ingin membuat sebuah perayaan yang berkesan. Supaya bukan hanya dikenang oleh kita sendiri, tetapi juga oleh anak, kan? Tetapi (seperti biasa), pada beberapa titik, perayaan ulang tahun impian kadang terbentur biaya. Iya tho, ibu-ibu?  Kalau saya sih, sedari dulu memang tidak pernah berminat pada jenis perayaan ulang tahun yang dilaksanakan di mall atau restoran fast food kesukaan anak. Yang penuh dengan balon, plus badut, MC, thematic party (plus dress code-nya), dan si anak yang kemudian tenggelam dalam tumpukan kado. It’s big no no! Sebabnya mungkin karena saya sendiri sejak kecil tidak dibiasakan merayakan ulang tahun dengan

Pasar Asemka

Image
Kemarin (Minggu, 9 januari 2011), saya dan keluarga pergi ke Pasar Asemka, berniat membeli beberapa barang untuk keperluan goodie bag ulang tahunnya Chiya. Sebetulnya kami sendiri tak tahu Pasar Asemka di mana, namun dari hasil tanya-tanya dan sedikit mencari info di Google, akhirnya kami tahu kalau Pasar Asemka ada di dekat Kota tua. Tidak dekat-dekat amat sih, tetapi karena ancer-ancer yang kami tahu adalah kota Tua dan sekitarnya (Glodok, Museum Bank Mandiri), maka clue sederhana itu sudah cukuplah untuk kami. Kemudian setelah melewati wilayah Glodok yang muacet (maklum, hari Minggu), ternyata ada plang rute Pasar Asemka menunjuk belok kiri (dari arah Glodok itu). Karena masih bingung, kami memutuskan lewat bawah jembatan layang, tidak melewati atasnya. Dan ternyata, itu memang jalan ke sana dan pasarnya ada tepat di bawah jembatan layang. Namanya pasar, situasinya ramai dan padat, tetapi untungnya kami dapat tempat parikir tepat di depan pasar. Jadi tak perlu jal