Posts

Showing posts from March, 2010

Gadis Pantai: membaca Pram dan membaca perempuan

Image
Picture from here. Tidak banyak buku yang benar-benar saya senangi. Apalagi jika penulisnya laki-laki. No offense , tidak bermaksud seksis, tapi kenyataannya saya lebih cenderung suka tulisan-tulisan penulis perempuan. Dan penulis-penulis yang saya gemari itu standar saja, maksudnya, mereka adalah nama-nama yang kerap didengar dalam ranah sastra. Sebut saja: Dewi Lestari, Ayu Utami, atau Djenar. Tapi bukan berati saya betul-betul menutup mata pada karya-karya penulis lelaki--meski jumlahnya tidak sebanyak penulis perempuan. Seperti banyak penikmat buku lain, saya suka membaca karya Pramoedya. Dan saya sampai saat ini belum pernah membaca tertraloginya. Haha! Saya agak susah membaca tulisan bagus seperti itu. Tetralogi terlampau apik untuk seorang penikmat buku (sangat) biasa seperti saya. Saya sudah sering mendengar betapa Pram lihai membuat cerita yang berlatar sejarah Indonesia. Terutama dari suami saya--si kutu buku itu, hehe. Alih-alih tetap ingin "menikmati Pram", say

namanya (juga) mimpi

Saya, sama halnya dengan banyak orang lain, juga punya mimpi. Punya cita-cita. Mimpi saya yang paling kini sudah ada sejak tahun-tahun terakhir di kampus. Layaknya menulis, mimpi yang sudah naik cetak dan sedang dalam perjalanan untuk diwujudkan, juga mengalami fase edit, koreksi atau ralat. Namun, koreksi itu dilakukan bukan karena (tiba-tiba) saya berubah pikiran dan menginginkan mimpi lain, melainkan dalam perjalanan tersebut, si mimpi harus melakukan serangkaian mimikri.  Ia harus menyesuaikan diri terhadap keadaan hidup saya dan berbagai kendala yang merintangi. Ya, mimpi saya itu HARUS fleksibel. Sebab di satu sisi saya tak ingin disorientasi, sementara di sisi lain, saya juga tak mau menyerah dan mengganti mimpi saya hanya karena kondisi saya yang belum memungkinkan. Sejauh ini, saya masih menggenggam kuat mimpi saya itu. Mimpi lawas, namun terus saya perbarui metode dan jangka waktunya. Tak harus terikat deadline . Sebab saya masih ingin hidup yang lama (amien). Juga saya sanga

sebuah mimpi besar untuk para ibu

Pengalaman pribadi saya saat menjadi stay at home mom , membuat saya belajar banyak hal. Selain belajar menjadi istri dan ibu yang (lebih) baik, saya juga belajar untuk tetap menghargai diri saya. Menjadi ibu, bagaimana pun adalah sebuah kontrak seumur hidup.  Tidak ada hari libur atau cuti bagi peran ini. Justru itu, peran ini membutuhkan komitmen yang kuat agar ada keseimbangan yang bisa dicapai antara kebahagiaan bersama juga kebahagiaan personal. Kebahagiaan personal ini juga penting untuk para ibu agar secara psikis mereka bisa tetap menjadi diri sendiri serta tetap bisa mewujudkan mimpi yang selama ini mereka punya. Jika para ibu tidak memiliki orang lain yang membantu mereka di rumah ( helper, babysitter , atau orang tua/mertua), maka rencana untuk mewujudkan mimpi mungkin tetap akan hanya memjadi mimpi. Cita-cita itu terkekang di dalam ruang bernama rumah. Pengecualian bila partner hidup masih bisa diajak kompromi.  Misalnya dengan bergantian mengurus rumah atau anak, atau lebi

Susahnya jadi guru bagi anakku sendiri

Semalaman saya browsing segala sesuatu tentang homeschooling (selanjutnya disingkat HS). Dulu, waktu di Jogja, saya sudah pernah mencoba digging tentang tema ini. Tapi karena saya yakin bahwa dalam HS, parameter yang digunakan adalah anak kita sendiri, maka semua yang saya dapat hanya untuk second opinion saja. Satu-satunya yang mampu membaca parameter itu adalah orang tua si anak. Meski, dalam beberapa hal, sharing juga penting dalam proses evaluasi dalam pembelajaran. Ketika kami masih di Jogja, semua terasa kondusif. Saya punya banyak waktu bersama Chiya dan kami sehari-hari di rumah hanya berdua saja. Repot, memang--tentu saja! Namun, saya bebas mengatur semuanya sesuai keinginan dan kemampuan saya. Saya bisa memasak dan menyetrika di hari ini. Tetapi saja juga bisa absen dari semua pekerjaan rumah, dan hanya fokus menemani Chiya bermain. Nah, pada masa-masa free itulah saya mencoba untuk menerapkan metode HS pada Chiya. Sebetulnya sekedar main-main saja. Tapi hasil dari main-m

what makes u happy?

Saya sedang dalam kondisi tidak enak--secara psikis. Entah. Mungkin jenuh, mungkin juga sedang muak... Kondisi ini tidak saya alami untuk pertama kalinya. Ini sudah yang kesekian kalinya. Saya jadi tidak fokus dan yang paling penting, saya jadi sensi sekali. Bagai seember penuh bahan bakar, hal sedikit saja, bisa membuat saya "meledak". Tidak dalam istilah harafiah, tentu saja. Tapi sedikit-banyak mirip-mirip. You know what I mean... Dan semua ini membuat saya, seolah-olah " fall on my own knee ". Break down and cry... Lebay ya? Tapi serius, bagitulah kira-kira... Dan saat ini, saya belum menemukan "teman" sesungguhnya yang bisa berbagi pahit-manis tentang ini. Sebenarnya saya juga punya teman, ia juga seorang full-time mom , namun saya tentu tidak bisa terus-terusan curhat dengannya. Sekarang ini, saya hanya bisa menyendiri saja. Saya pikir, memang ini yang saya butuhkan. Mungkin, kapan-kapan saya akan coba sharing dengan teman saya itu. Kapan-kapan...

Cemilan yang mudah dibuat

[Mau resep yang lain? S ila cek Cookpad saya , ya.] Minggu pagi... Kalau di Yogya, biasanya kami bangun siang, lalu sarapan seadanya. Agak siangan, kami jalan-jalan--kemana saja kami suka. Taman Pintar, museum, kadang-kadang ke mall, ke Sunmor ( Sunday morning ) di UGM, or just walking around . Pokoknya Minggu pagi jadi waktu buat kami untuk leyeh-leyeh dan santai-santai. Saya pun biasanya pada hari Minggu absen dari aktivitas memasak. Paling-paling bikin sesuatu buat cemilan atau sarapan saja. Nah, yang biasa saya bikin adalah cemilan-cemilan yang easy to make . Beberapa di antaranya, saya tulis di sini. (Sumpah, semua yang saya tulis ini, gampang bukan main!!) CUP CORN Biasanya jajanan ini kita beli waktu ke mall atau pas jalan-jalan. Sebetulnya, cara bikinnya simpel banget lo! Cuma butuh jagung manis yang sudah dipipil, lalu dikukus. Kenapa dikukus? Karena kalau direbus, repot! Hehe, selain juga karena jagungnya sudah bentuk pipilan, jadi lebih cepat matang. Nah, setela

Reuni bersama teman-teman SMP

Sore tadi habis reunian bersama teman-teman SMP saya di SLTPN 178 Pesanggrahan, Jakarta Selatan. Hanya reuni kecil, sebatas teman sekelas saja. Namun sangat cukup membayar kerinduan saya akan teman-teman lama, khususnya yang di Jakarta. Maklum, meski hanya tujuh tahun di Yogya, saya selalu merasa saya adalah orang Yogya. Saya lebih hafal jalan dan daerah di Yogya ketimbang Jakarta yang telah saya tempati selama tujuh belas tahun. Dan kini, ketika saya kembali ke Jakarta lagi, saya musti kembali men-setting mind set yang selama ini sudah "tertata rapi" dalam folder ke-Yogya-an. Kembali soal reuni. Di sana, saya kembali menemukan wajah-wajah lama, dengan tampilan baru. Tentu, semua datang dengan tampilan baru. Tiga belas tahun adalah waktu yang cukupan untuk membuat seseorang berubah (minimal) secara tampilan. Ada beberapa teman perempuan yang jelang jadi ibu atau sudah menjadi ibu, seperti saya. Dengan satu atau dua anak. Ada pula yang datang dengan make-up atau polosan. Yan

Selamat menjadi ibu!

Belakangan ini saya mendengar dan mengetahui bahwa beberapa teman saya sedang hamil. Ada yang sedang menanti kelahiran, ada yang umur janinnya baru beberapa mingguan dan (yang paling) baru, ada yang tadi pagi baru pakai test pack . Saya merasa lucu saja. Sebab, ternyata peristiwa (menakjubkan) itu sudah saya lalui beberapa tahun lalu. And now is their turn . Saya benar-benar ikut kesetrum bahagia. Buat saya proses kehamilan begitu indah, begitu mengharukan. Apalagi kehamilan yang pertama (selain karena saya belum pernah hamil yang kedua ^_^). Dan ketika saya mengetahui beberapa teman dekat sedang hamil, wwiii..... ikut senang, pokoknya. Sebetulnya, pengalaman kehamilan saya biasa-biasa saja. Maksudnya, sama saja seperti yang lain: pakai acara morning sick (kalau saya mengalami itu for almost about the whole nine months ! Capek kan?), tapi tanpa ngidam (dalam makna sebenarnya, ngidam yang minta mangga muda [harus] tengah malam, atau yang merepotkan lainnya). Dan dari semua pengala

Bakmoy ayam favorit

Image
[Mau resep yang lain? S ila cek Cookpad saya , ya.] Bisa dibilang saya baru mulai masuk dapur dan teratur menjadi personal cleaning service dalam keluarga sejak menikah. Sebelumnya? Wuuu... saya seperti remaja perempuan  kebanyakan: malas dan "alergi" dengan hal-hal yang berhubungan dengan ke-perempuan-an macam memasak atau beres-beres. Overall, boleh dibilang perkejaan rumah itu baru saya alami dan pelajari ketika waktunya tiba. Termasuk: cooking. Tantangan terbesar saya (waktu itu) adalah ketika bayi saya mulai memasuki masa mengkonsumsi nasi atau makanan padat. Sementara kemampuan memasak saya yang cocok untuk bayi usia sembilan bulanan hanya sup. Mulai dari sup dimodifikasi, sayur bening dengan variasi isi, hingga bakso kuah atau soto.  Nah waktu ikut Posyandu di Minomartani (Sleman, Yogyakarta, *rumah pertama kami), saya mendapati semangkuk sayur yang... lucu, lezat dan bergizi. Sebab itulah pertama kali saya menemukan sayur sejenis sup yang isinya daging ayam, tahu

the benefit of (being) insomniac...

Ini dia!!! Akhirnya saya bisa punya weblog "beneran"!! Hihi... Dulu sempet punya di wordpress. Tapi terbengkalai, gak keurus. Selain itu, dari segi waktu dan minat belum kondusif juga untuk turut menyuburkan blog yang sudah jadi itu... Dan sekarang adalah saatnya untuk benar-benar niat punya blog beneran. Semoga hasrat menulisnya bisa tetap on fire. Dan malam ini, ketika saya (lagi-lagi) tidak bisa tidur, saya memutuskan untuk momong "bayi virtual" saya yang baru saja lahir. Semoga, semoga...