Posts

Showing posts from 2010

Yuk, masak!

[Mau resep yang lain? S ila cek Cookpad saya , ya.] Sejak di Jakarta, saya malas masak. Entah, mungkin karena di sini provides anything , termasuk kebutuhan lauk-pauk sehari-hari, jadi keenakan tak mau susah-payah mikir mau masak apa, belanja, sampai proses masak-memasaknya. Selain itu, Mami (ibu saya) yang bekerja dari pagi sampai sore hari tak punya waktu juga untuk urusan beginian. Jadilah beliau pelanggan setia Mbak Sayur yang lewat setiap pagi. Mbak Sayur membawa banyak pilihan menu lauk-pauk. tetapi sebetulnya pilihannya itu-itu saja, jadi tetap saja harus masak untuk sekedar alternatif makanan. Kalau di Jogja, saya benar-benar usaha untuk aktivitas yang satu ini. Mulai dari menentukan menu makanan, belanja setiap hari ke pasar naik sepeda bersama Chiya, memasak sambil multitask : menjaga jemuran, menemani Chiya main di halaman belakang dan sebagainya. Saking bingungnya, saya akhirnya memutuskan untuk mencatat tiap menu yang sudah saya masak hari ini. Sehingga jika sewakt

Tantrum: how to deal with...

"Engga mau! Pokoknya aku mau sekarang!!" Wiuh... Ngeri banget deh... Kalimat di atas itu, mengutip apa yang pernah dilakukan Chiya, putri saya. Ketika pada kondisi ini, dia betul-betul berontak, berteriak dan sama sekali tidak bisa dibujuk. Hal ini belum lama terjadi dan itu adalah pengalaman pertama kali sejak kami menjadi orang tuanya. Kami sebagai orang tuanya pun bahkan heran: mengapa ia yang biasanya bisa dibujuk dan diberitahu secara halus, sama sekali tidak tergoyahkan? Sama sekali tidak mau mendengarkan kami, menatap mata kami, dan bersikukuh dengan keyakinannya sendiri. Bingung kan? Okay ... Ketika pada momen itu, saya pun merasakan bingung yang mungkin cenderung pada perasaan kecewa. Mungkin saya kecewa karena Chiya tak lagi "manut" seperti dulu. But well, life goes on and she's turned to be a big girl . Mau disadari atau tidak, mau diterima atau tidak, sebetulnya pertentangan macam itu pasti muncul. Pasti ada. Namanya juga manusia, ya. Harus diakui

*akhirnya blogging lagi*

Huaaahhh.... After so long.... Akhirnya bisa blogging juga!! Harus sangat berterima kasih pada seorang kawan yang telah sungguh berbaik hati menghibahkan modem beserta kartu baru untuk kami. Sungguh, aku berdoa untuk mereka... Sejauh ini, saya bukan hanya absen pada aktivitas blogging, tapi juga ritual menulis refleksi. Sebetulnya ini persoalan malas. Hal-hal lain seperti modem atau waktu hanya efek sampingan saja. Juga mengenai kontemplasi dan belajar memahami isi kepala orang lain.Susah! Dan saya masih mau mencoba, terus mencoba. Sekian dulu. Sepertinya cukup untuk recall... Kapan-kapan akan saya posting tulisan tentang tantrum pada anak. Bye!

Anggun dan proses bargain dengan anak

Tulisan ini terinspirasi dari pengalaman saya menemani Chiya makan sore di luar rumah. Sembari menyuapi, biasanya dia bermain dengan beberapa temannya yang juga sedang makan sore. Kemudian ada temannya yang bernama Anggun yang tak mau makan dan terus menghindari ibunya. Ibunya dengan tergopoh-gopoh mengejar anak-anaknya yang bermain sepeda dan jalan-jalan. Selain Anggun ada adik lelakinya yang biasanya juga disuapi ibunya setiap sore. Repotnya, selain harus bergantian mengejar-ngejar anak-anaknya, si ibu juga harus meladeni permintaan mereka yang macam-macam. Seperti pada sore itu, adiknya Anggun mau makan meski dengan jalan-jalan ke sana kemari. Lalu ketika gilirannya untuk menyuap, Anggun beralasan ini-itu, dia minta dibikinkan es teh, barulah dia mau makan. Sebetulnya, pada momen inilah terjadi proses bargain atau tawar menawar. Sang ibu ternyata tak kuasa pada rewelan anaknya itu. Mungkin karena lelah juga. Kemudian ia masuk rumah dan tak lama membawa segelas es teh dengan es bat

sekolah atau belum? [part II]

Image
Aktivitas belajar di rumah Chiya tambah seru!! Karena saya mulai menemukan sumber belajar dan aktivitas menyenangkan untuknya. Misalnya, mewarnai. Jika sebelumnya ia mewarnai di buku-buku mewarnai yang tipis dan murah itu, maka lama-lama ia bosan dan kehabisan halaman lagi. Sebab, hampir dalam tiap aktivitas belajarnya ia mewarnai. Hingga akhirnya saya mulai mencari-cari coloring page yang printable untuknya. Dan, taadaa!! Dia tidak pernah kehabisan lembar mewarnai lagi. Selain itu, dia lebih semangat dengan lembar mewarnai yang diunduh ini. Mungkin karena dia bisa memilih sendiri gambar-gambar yang sebagian besar adalah tokoh-tokoh kartun yang dia senangi. Hasilnya, dia mau lebih telaten untuk tidak terburu-buru menyelesaikan lembar mewarnainya. Kapan-kapan saya unggah foto-fotonya. hasil karya Chiya yang ditempel di dinding  Lalu, tentu saja: buku. Entah, kami merasa belakangan ini Chiya makin "maniak buku". Soalnya ketika kami ke toko buku (dan masing-masing dari ka

sekolah atau belum?

Adalah hal biasa jika bertemu dengan anak usia tiga-empat tahun dan bertanya: sudah sekolah belum? Chiya juga kerap bertemu dengan pertanyaan itu. Dan tentu saja ia jawab: belum! Karena memang ia belum ikut aktivitas preshcool apapun. Bahkan PAUD. Bukan apa-apa, kami punya beberapa pertimbangan. Pertama, ia masih punya saya, bundanya, yang masih bisa menemaninya di rumah. Kedua, jujur saja, kami masih bingung dengan pilihan orientasi preshcool ini. Misalnya, apakah kami ingin memilih sekolah dengan orientasi agama atau yang konvensional saja. Lalu pertanyaan jangka panjangnya: bagaimana merancang masa studinya sampai ia masuk sekolah dasar nanti. Sebab, di Jakarta sudah ada regulasi soal limit minimum untuk usia masuk sekolah dasar. Jadi, sepintar apapun si anak, jika usianya belum genap enam setengah tahu, ia tidak akan diterima. Bahkan jika kurang sebulan saja. Maka itu, kami juga berpkir tentang antisipasi apabila nanti Chiya jenuh bersekolah. Just in case . Pertimbangan lain adal

Teras Bunda: an early preview

Ketika saya menemukan buku atau majalah murah, saya kerap kembali diingatkan tentang mimpi membuat pondok baca untuk para ibu. Saya sebetulnya begitu bergairah untuk mewujudkan ini, namun laiknya mimpi, saya juga menemui banyak kendala. Meski masih dalam level preview awal. Kali ini, saya ingin berbagi tentang dua hal itu: passion dan tantangan Teras Bunda (saya menamakannya demikian dan saya sadar ini masih terlalu dini). Niat awal dan beberapa kemungkinan Tentang mengapa saya sampai pada sebuah ide untuk membuat Teras Bunda, saya sudah pernah menulisnya di blog ini . Pertama, saya percaya bahwa para ibu deserved something more . They deserved an extended space except home . Saya sangat percaya bahwa mereka juga butuh untuk tetap beraktualisasi diri, meski hanya sebagai perempuan rumah. Kedua, kecintaan akan membaca harus dimulai dari sebuah kebiasaan dari rumah, dari keluarga.  Dan apparatus terdekat dalam keluarga antara generasi orang tua dan anak adalah ibu. Meski peran ayah ju

me, nowadays...

Sebetulnya menjadi ibu rumah tangga adalah peran dengan banyak pekerjaan. Terlalu banyak, malah. Namun, sepindahnya kami dari Jogja ke Jakarta, semua berubah. Beberapa pekerjaan yang biasa saya lalukan di Jogja, sudah tidak jadi rutinitas lagi. Misalnya, bicycling bersama Chiya ke pasar, hampir setiap hari. Juga memasak dan mondar-mandir dapur dan halaman belakang untuk mengecek jemuran. Di sini, urusan memasak sudah tidak serumit dulu. Ada penjual lauk-pauk yang setiap pagi keliling dan menghampiri rumah. Yang penting adalah makanan untuk Chiya, kalau untuk yang dewasa, apa saja mau! Kalau malas masak, bisa beli ayam goreng, soto, atau cuma bikin telur dadar saja, beres. Untuk menemani Chiya, juga sudah tidak seintens dulu. Sebagian hati saya senang, karena saya bisa mengerjakan pekerjaan lain dengan leluasa atau sekedar membaca, menulis atau ke warnet. Sebagian hati saya yang lain merindukan momen intim itu. Meski masih ada jam tidur siang yang bisa membuat saya bisa bermesraan den

Mami, sebuah cerita

Saya menyebut ibu saya dengan panggilan Mami. Entah sejak kapan. Yang saya hanya ingat hanyalah bahwa saya kurang suka dengan panggilan "ibu". Jadilah saya mengubah panggilan ibu dengan Mami. Dan yang penting ia tidak protes. Bahkan adik saya juga ikut-ikutan menggunakan nama panggilan itu. Meski untuk bapak, saya tetap memanggilnya Bapak. Saya pun sadar kombinasi Mami dan Bapak tidaklah cocok didengar. namun bagaimana pun saya lebih senang memanggilnya Mami. Sampai sekarang. Beliau masih mengajar di sebuah SD negeri di daerah Bintaro. Saya begitu senang mendengar cerita-ceritanya tentang murid-muridnya. Banyak yang lucu-lucu. Ceritanya yang paling baru adalah tentang salah seorang muridnya yang baru saja kehilangan ponsel. (Sekolah Mami memang banyak terdapat anak-anak orang kaya.) Nah, setelah anak yang kehilangan ini cerita kepada orang tuanya, lalu orang tuanya pun menyampaikannya kepada Mami. Sebagai langkah awal, Mami dan ibu dari anak itu menggeledah isi tas semua ana

Ya Tuhan....

Mungkin berlebihan, tapi sungguh, saya mau nangis waktu nulis ini. Belakangan ini saya sedang rapuh. Entah, harus disebut apa, sepertinya sebutan rapuh juga tak tepat. Mungkin jenuh. Mungkin.... Tapi satu yang pasti: saya tak merasa bisa mengatasinya. Tak kuat. Jika mampu, saya ingin memilih sebuah tindakan eskapis atau sebangsanya. Sebuah pilihan pengecut, mungkin. Tapi mau bagaimana lagi, saya butuh sendiri. Saya perlu merenungi semua ini. Saya sangat menginginkan waktu untuk diri saya sendiri. Hanya saya dan diri saya sendiri. Tak ada orang lain. Bahkan mungkin Tuhan. Saya mau sendiri saja. Kali ini saja. Sebab saya merasa saya sudah cukup mendedikasikan seluruh diri, jiwa, hayat, dan nafas saya untuk orang-orang di luar diri saya sendiri. Lalu diri saya protes: adakah waktu untuk dirimu sendiri? Adakah kesempatan untuk mewujudkan mimpi? Saya cuma bisa menunduk. Saya memang pernah menawarkan banyak hal-hal indah untuk diri saya. Saya memang tambah sabar, tetapi di sisi lain saya

a liltte adventure of Chiya

Banyak sudah yang berubah dari Chiya. Selain ia tambah tinggi, ada beberapa hal positif yang ia perlihatkan pada kami dari hari ke hari. Menyenangkan, bisa melihatnya terus tumbuh dan terus menunjukkan perkembangan yang baik. Seperti yang ada belakangan ini. Kelihatannya ia memang sedang menunjukkan bahwa ia sedang bertransformasi ke dalam fase "anak gede", seperti yang sering ia katakan pada kami. inilah beberapa progress things yang sedang ia alami belakangan ini... kosakata yang ia ketahui semakin banyak . Ini dapat diketahui tiap ia ngoceh setiap saat, kapan pun... Contoh kosakata yang sering ia gunakan belakangan ini antara lain: produk, berfungsi, masyarakat, dan lain-lain (banyak sekali, saya sampai lupa!). Yang pasti, kata-kata tersebut merupakan diksi yang jarang saya dengar dari mulut mungil seorang anak tiga tahun. And I dont have any idea about where's did she get those words from...still wondering ... ia butuh sesuatu yang lebih menantang, seperti naik k

men are made to destroy women, women are made to makes men stronger (sebuah refleksi di Hari Kartini)

Satir memang. Namun, begitulah kurang lebih kenyataannya. Hari Kartini seharusnya tidak lagi diresapi sebagai hari di mana para anak perempuan memakai konde, berkebaya dan bergincu. Tetapi sebagai hari di mana kesadaran gender semakin diyakini dan diaplikasikan setiap hari. Judul ini pun, punya arti buat saya. Hasil sedikit kontemplasi. Bahwa, laki-laki sebenarnya membutuhkan perempuan untuk membuat mereka kuat. Sementara para perempuan bisa independen di atas kaki mereka sendiri--bahkan dapat memberi energi lebih bagi laki-laki. Saya pernah membaca bahwa perempuan memiliki suatu hormon yang mampu membuat mereka mencintai secara total. Hal ini kemudian dapat membuat perempuan dapat melakukan banyak hal dengan total dan maksimal, karena perempuan bisa mencintai apa yang dilakukannya dengan sepenuh hati. Tetapi, bagaimana pun juga, kekuatan perempuan ini bisa jadi bumerang bagi diri mereka sendiri. Tak jarang para lelaki iri atau bahkan tidak suka dengan kemajuan perempuan (dalam hal ke

baik-buruknya seatap dengan eyang...

Saat ini keluarga mungil kami (yang terdiri dari ayah-bunda-Chiya) hidup bersama dengan orang tua saya di Jakarta. Sebelumnya kami tinggal di Jogja. Setelah kuliah lalu menikah, kami memutuskan untuk tetap stay di sana karena beberapa alasan. Dan satu alasan besarnya adalah: we both love that city so much ! Saya sendiri memilih "minggat" dari Jakarta dan memilih kuliah di sana karena saya muak dengan kota ini (beserta segala isinya!). Karena sejak saya kecil saya kerap diajak ke Jogja, saya percaya: saya akan meneruskan hidup saya di kota mungil itu. Then everything was changed . Maybe my fate isn't there . Alih-alih sangat rindu dan selalu berharap suatu hari bisa tinggal di sana lagi, saya mencoba menikmati harihari "panas" saya di sini. Well, i have to admit that something in my life was changes: into a progress one . Tetapi, di sini saya malah tertantang oleh pola pengasuhan yang selama di Jogja "baik-baik" saja. Entah, sewaktu saya dan Chiya ser

well, finally...

Akhirnya, bisa menulis lagi... Saya memang sedang kena penyakit gatal-gatal. gatal nulis, gatal baca, gatal earn money , pokoknya gatal do something . Dan sejauh ini, ada beberapa personal project yang mau saya jalankan. Tetapi karena bagaimana pun juga saya tetap harus memprioritaskan peran saya sebagai housewife , maka baru beberapa hal yang saya jalankan. Itu pun seolah-olah baru preview nya saja. Toh saya tidak ngoyo dan tidak terburu-buru. Saya masih seorang ibu dan saya tetap bermimpi. Do both things equally, and i'd still be happy!!

welcome to this a brand new blog!!

Sebetulnya tidak ingin mendua. Tapi apa boleh buat, blog saya yang pertama dan tercinta, mess up . Karena satu dan banyak hal, saya sebenarnya tidak ingin menghapusnya. Macam cinta pertama, saya begitu ingin anthrogynous tetap di sana, Menemani saya menikmati sepetak ruang, hanya untuk saya sendiri saja. Tapi, apa boleh buat. Kami harus berpisah secepat ini. Saya harus belajar melepaskannya... Sedih rasanya. Mengingat sudah cukup banyak tulisan saya di sana. Juga nama yang (menurut saya) begitu lucu. Sebuah nama yang saya temukan bertahun-tahun lalu dan hanya saya simpan dalam hati saja. Sampai akhirnya saya merasa ada waktu yang tepat untuk menggunakannya. Bye anthrogynous ... Kelak, jika saya masih bisa "menyelamatlanmu", saya akan menghidupkan kamu kembali... Sebab bagaimana pun juga nama dizzy anggie terasa begitu aneh...

Gadis Pantai: membaca Pram dan membaca perempuan

Image
Picture from here. Tidak banyak buku yang benar-benar saya senangi. Apalagi jika penulisnya laki-laki. No offense , tidak bermaksud seksis, tapi kenyataannya saya lebih cenderung suka tulisan-tulisan penulis perempuan. Dan penulis-penulis yang saya gemari itu standar saja, maksudnya, mereka adalah nama-nama yang kerap didengar dalam ranah sastra. Sebut saja: Dewi Lestari, Ayu Utami, atau Djenar. Tapi bukan berati saya betul-betul menutup mata pada karya-karya penulis lelaki--meski jumlahnya tidak sebanyak penulis perempuan. Seperti banyak penikmat buku lain, saya suka membaca karya Pramoedya. Dan saya sampai saat ini belum pernah membaca tertraloginya. Haha! Saya agak susah membaca tulisan bagus seperti itu. Tetralogi terlampau apik untuk seorang penikmat buku (sangat) biasa seperti saya. Saya sudah sering mendengar betapa Pram lihai membuat cerita yang berlatar sejarah Indonesia. Terutama dari suami saya--si kutu buku itu, hehe. Alih-alih tetap ingin "menikmati Pram", say

namanya (juga) mimpi

Saya, sama halnya dengan banyak orang lain, juga punya mimpi. Punya cita-cita. Mimpi saya yang paling kini sudah ada sejak tahun-tahun terakhir di kampus. Layaknya menulis, mimpi yang sudah naik cetak dan sedang dalam perjalanan untuk diwujudkan, juga mengalami fase edit, koreksi atau ralat. Namun, koreksi itu dilakukan bukan karena (tiba-tiba) saya berubah pikiran dan menginginkan mimpi lain, melainkan dalam perjalanan tersebut, si mimpi harus melakukan serangkaian mimikri.  Ia harus menyesuaikan diri terhadap keadaan hidup saya dan berbagai kendala yang merintangi. Ya, mimpi saya itu HARUS fleksibel. Sebab di satu sisi saya tak ingin disorientasi, sementara di sisi lain, saya juga tak mau menyerah dan mengganti mimpi saya hanya karena kondisi saya yang belum memungkinkan. Sejauh ini, saya masih menggenggam kuat mimpi saya itu. Mimpi lawas, namun terus saya perbarui metode dan jangka waktunya. Tak harus terikat deadline . Sebab saya masih ingin hidup yang lama (amien). Juga saya sanga

sebuah mimpi besar untuk para ibu

Pengalaman pribadi saya saat menjadi stay at home mom , membuat saya belajar banyak hal. Selain belajar menjadi istri dan ibu yang (lebih) baik, saya juga belajar untuk tetap menghargai diri saya. Menjadi ibu, bagaimana pun adalah sebuah kontrak seumur hidup.  Tidak ada hari libur atau cuti bagi peran ini. Justru itu, peran ini membutuhkan komitmen yang kuat agar ada keseimbangan yang bisa dicapai antara kebahagiaan bersama juga kebahagiaan personal. Kebahagiaan personal ini juga penting untuk para ibu agar secara psikis mereka bisa tetap menjadi diri sendiri serta tetap bisa mewujudkan mimpi yang selama ini mereka punya. Jika para ibu tidak memiliki orang lain yang membantu mereka di rumah ( helper, babysitter , atau orang tua/mertua), maka rencana untuk mewujudkan mimpi mungkin tetap akan hanya memjadi mimpi. Cita-cita itu terkekang di dalam ruang bernama rumah. Pengecualian bila partner hidup masih bisa diajak kompromi.  Misalnya dengan bergantian mengurus rumah atau anak, atau lebi

Susahnya jadi guru bagi anakku sendiri

Semalaman saya browsing segala sesuatu tentang homeschooling (selanjutnya disingkat HS). Dulu, waktu di Jogja, saya sudah pernah mencoba digging tentang tema ini. Tapi karena saya yakin bahwa dalam HS, parameter yang digunakan adalah anak kita sendiri, maka semua yang saya dapat hanya untuk second opinion saja. Satu-satunya yang mampu membaca parameter itu adalah orang tua si anak. Meski, dalam beberapa hal, sharing juga penting dalam proses evaluasi dalam pembelajaran. Ketika kami masih di Jogja, semua terasa kondusif. Saya punya banyak waktu bersama Chiya dan kami sehari-hari di rumah hanya berdua saja. Repot, memang--tentu saja! Namun, saya bebas mengatur semuanya sesuai keinginan dan kemampuan saya. Saya bisa memasak dan menyetrika di hari ini. Tetapi saja juga bisa absen dari semua pekerjaan rumah, dan hanya fokus menemani Chiya bermain. Nah, pada masa-masa free itulah saya mencoba untuk menerapkan metode HS pada Chiya. Sebetulnya sekedar main-main saja. Tapi hasil dari main-m

what makes u happy?

Saya sedang dalam kondisi tidak enak--secara psikis. Entah. Mungkin jenuh, mungkin juga sedang muak... Kondisi ini tidak saya alami untuk pertama kalinya. Ini sudah yang kesekian kalinya. Saya jadi tidak fokus dan yang paling penting, saya jadi sensi sekali. Bagai seember penuh bahan bakar, hal sedikit saja, bisa membuat saya "meledak". Tidak dalam istilah harafiah, tentu saja. Tapi sedikit-banyak mirip-mirip. You know what I mean... Dan semua ini membuat saya, seolah-olah " fall on my own knee ". Break down and cry... Lebay ya? Tapi serius, bagitulah kira-kira... Dan saat ini, saya belum menemukan "teman" sesungguhnya yang bisa berbagi pahit-manis tentang ini. Sebenarnya saya juga punya teman, ia juga seorang full-time mom , namun saya tentu tidak bisa terus-terusan curhat dengannya. Sekarang ini, saya hanya bisa menyendiri saja. Saya pikir, memang ini yang saya butuhkan. Mungkin, kapan-kapan saya akan coba sharing dengan teman saya itu. Kapan-kapan...

Cemilan yang mudah dibuat

[Mau resep yang lain? S ila cek Cookpad saya , ya.] Minggu pagi... Kalau di Yogya, biasanya kami bangun siang, lalu sarapan seadanya. Agak siangan, kami jalan-jalan--kemana saja kami suka. Taman Pintar, museum, kadang-kadang ke mall, ke Sunmor ( Sunday morning ) di UGM, or just walking around . Pokoknya Minggu pagi jadi waktu buat kami untuk leyeh-leyeh dan santai-santai. Saya pun biasanya pada hari Minggu absen dari aktivitas memasak. Paling-paling bikin sesuatu buat cemilan atau sarapan saja. Nah, yang biasa saya bikin adalah cemilan-cemilan yang easy to make . Beberapa di antaranya, saya tulis di sini. (Sumpah, semua yang saya tulis ini, gampang bukan main!!) CUP CORN Biasanya jajanan ini kita beli waktu ke mall atau pas jalan-jalan. Sebetulnya, cara bikinnya simpel banget lo! Cuma butuh jagung manis yang sudah dipipil, lalu dikukus. Kenapa dikukus? Karena kalau direbus, repot! Hehe, selain juga karena jagungnya sudah bentuk pipilan, jadi lebih cepat matang. Nah, setela

Reuni bersama teman-teman SMP

Sore tadi habis reunian bersama teman-teman SMP saya di SLTPN 178 Pesanggrahan, Jakarta Selatan. Hanya reuni kecil, sebatas teman sekelas saja. Namun sangat cukup membayar kerinduan saya akan teman-teman lama, khususnya yang di Jakarta. Maklum, meski hanya tujuh tahun di Yogya, saya selalu merasa saya adalah orang Yogya. Saya lebih hafal jalan dan daerah di Yogya ketimbang Jakarta yang telah saya tempati selama tujuh belas tahun. Dan kini, ketika saya kembali ke Jakarta lagi, saya musti kembali men-setting mind set yang selama ini sudah "tertata rapi" dalam folder ke-Yogya-an. Kembali soal reuni. Di sana, saya kembali menemukan wajah-wajah lama, dengan tampilan baru. Tentu, semua datang dengan tampilan baru. Tiga belas tahun adalah waktu yang cukupan untuk membuat seseorang berubah (minimal) secara tampilan. Ada beberapa teman perempuan yang jelang jadi ibu atau sudah menjadi ibu, seperti saya. Dengan satu atau dua anak. Ada pula yang datang dengan make-up atau polosan. Yan