Posts

Featured Post

Just Turned Down The Lights

I had those days full of laughter. I had those windy noon when the train arrived and the door was opened for me.I had the journey.
I thought I had some company. Turned out, the park suddenly dark.I had " excuse me, may I borrow your smile for me?".
Once, it felt so real. Well, it is real.What was love made out of fantasy? Cupid added some clouds in it then it become lucid dreams.
You are perfect for me.Then she puts her damaged soul--burn it away. Helplessly.---Written on a breezy day while I was listening to one of my favorite song and waiting for lunch

Catatan Di Sebuah Pagi yang Terik

Image
Kalian pernah dengar kalimat ini gak:"Orang baik untuk orang baik."Lalu, kalian percaya dengan kalimat itu? Ya, mungkin tergantung, ya. Kalau kalian sedang merasa baik-baik saja, kalimat itu bisa saja terasa sangat relate. Sementara kalau lagi gak baik-baik aja, kalimat apapun (well, bahkan kalimat motivasional sekalipun) akan terasa bullshit, ya. :))Aku sendiri percaya kalimat itu (tapi tidak sedang baik-baik saja, sih :))).Tapi, bagiku, mungkin konteksnya tidak melulu "orang". Person. It could be anything.Kerjaan. Rejeki. Lingkungan. Relasi dengan orang tua atau orang lain. Koneksi. Cita-cita. Whatever you named it.Beberapa hari yang lalu, aku melalui satu hari berat di mana aku rasanya ingin marah. Banget. Tapi gak bisa. Satu, lagi puasa (HAHAH, nga bole mara-mara apalagi menangys, bosque!). Kedua, I don't think I had quite much energy to raging on everything. Energiku dua hari sebelumnya itu sudah kudedikasikan untuk qerja qerja qerja bagaikan quda.Marah, …

Abah dan Yudi

Stasiun Kalibata malam itu telah basah. Berbeda ketika ia baru naik dari Sudirman tadi, baru mendung bergantung.[Tukang makanan sudah tiba.] Pesan pendek dari Abah hadir menyambutnya yang sedang berjalan keluar stasiun.[Abah makan duluan aja. Yudi baru turun stasiun ini.] Ia membalas sembari berjalan pelan.[Abah masih mau isya dulu, kok.]Sama seperti dua malam sebelumnya, Abahnya berkenan menantinya pulang dan makan bersama. Abah sempat menawarkan diri untuk memasak untuknya, tapi tak ada supermarket di apartemennya. Apalagi pasar terdekat."Abah masih bisa bikin ikan goreng, Yud", selorohnya ketika hari itu ia baru saja sampai. "Yah, walau mungkin tidak seenak punya Umi." Abah kemudian terkekeh.Setelah Umi wafat tahun 2014 lalu, Abah tinggal bersama Mbak Ratih, kakak tertuanya yang rumahnya tak terlalu jauh dari makan Umi.Rumah dan kebun Abah segera dijual, sebab Abah tak ingin menempati rumah itu sendirian. "Abah gak mau lah ngelangut sendirian", ujarnya…

Drama Sebelum Tidur

Image
Ada yang lucu tiap kali tidur sama bocil-bocil ini. Iya, ada aja dramanya. Mau itu tidur siang atau tidur malem, mereka ini gak bisa langsung pules *gak kayak emaknyaBener, deh. Buat orang yang pelor (nempel-molor) macem aku ini, habit sebelum tidur mereka sungguhlah bikin pening. Aku ini hanya butuh dua menit untuk merem kemudian sampe ke alpha state. Sementara mereka, dikasih waktu setengah jam pun gak kelar-kelar ya Lord.Jadi kalo mau ngajak tidur nih, minimal spare waktu satu jam sebelom batas jam tidur. Iya, sejam :)))Selama itu?Banget. Karena mereka ada aja yang dikerjain dan selalu minta extra time. Dikata maen bola apa gimana, malih? :))Sebelum tidur aku selalu kasih warning ke mereka, misalnya: nanti Bunda turun setengah jam lagi ya, guys. Kelarin dulu main/baca/nontonnya sebelum Bunda turun.Maksudnya sih ya, nanti abis aku tutup laptop, kami langsung ke kamar lalu zzz... Itu ekspektasinya, sih. Wkwkwkwk. Dan yang dikasih tau mah iya-iya bae :)))Nanti setengah jamkemudian itu…

Untukmu, semoga kau makin kuat

Akhir Desember tahun kemarin. Aku dalam perjalanan menuju Senayan naik Trans Jakarta koridor 1. Sore tadi habis hujan, jalanan basah, udara lembab dan dingin.Pukul tujuh kurang. Semakin dekat halte terakhir (Blok M), penumpang semakin surut. Pun, bis semakin berembun karena sungguh dingin.Kita berbincang di fitur pesan sebuah sosial media setelah aku memberi respon dari cerita singkat yang kau unggah. Ceritamu, mengingatkanku pada milikku.Kau berbagi betapa sulit menata perasaanmu saat itu. Aku paham itu. Paham sekali.Aku mengenal kalian sebetulnya hanya selintas saja. Kalian pernah berkunjung ke rumah kami. Beberapa kali diceirtakan tentang kalian juga.Kalian manis. Ke mana-mana sering berdua. Banyak momen yang kalian bagi dalam situasi bahagia.Tapi, perkara hidup siapa yang tahu arahnya akan ke mana? Siapa yang menjamin kita akan selalu bahagia?Kini kau sedang asyik mendalami yoga. Kadang menyambangi sahabat-sahabatmu di sana dan bercengkrama. Kadang sibuk membesarkan toko daring ya…

Move on, Alex!

Image
"I wrote a long paragraph last night." She sat in front of me and took a toast that already cold."About Jo?" I asked her while still holding my book. She nodded while chewing."This pain is too heavy to endure."I nodded too.Alex and Jo made two fabulous years of relationship. They looked fine. Everything seemed good. Until one day Jo said he wanted to leave. Not going anywhere but left from Alex.Since that day, Alex spent mostly her days in my dorm. She was doing everything except being normal. She cried a lot, refused to eat and didn't be able to attended classes. All of her friends came by but then they gave up.They just didn't get it why it was that HARD for her to move along with her life. A life that quite delightful. You know, gold and glitters. She, actually, has them all."But I just want to keep it myself, not give anyone a chance to read it." I guess she talked to me."I don't want to read either." I said while I clo…

Optimisme Hujan

Image
Malam tadi, Si Paling Kecil tergopoh-gopoh datang ke kamarku membawa serta bantal dan guling kecilnya: mau bobok sama Bunda. Baik.Seperti malam sebelumnya, hujan tetiba turun cukup lebat. Pas sekali sebagai suara latar sebelum tidur kami.Penyejuk ruangan sudah disetel normal sehingga niscaya sudah tidak bikin menggigil lagi. Kaus kaki sudah dipakai, botol minum tersedia di samping dipan, dan selimut sudah siap (jaga-jaga siapa tahu butuh diselimuti). Semua ada, seperti biasa.Kami berbincang sebentar, seadanya. Lalu saling mencium, memeluk, menghirup rambut, sebanyak-banyaknya. Sesekali tertawa, selepasnya.Lalu ia bilang: Bun, hujannya hilang.Aku menyahut: oh, bukan hilang, tapi berhenti. Hujan tak hilang, tapi berhenti.Di detik aku mengatakan itu, aku menyadari sesuatu. Kita memang tak pernah menganggap hujan hilang. Hujan itu hanya berhenti. Kita meyakini hujan pasti akan datang lagi. Sebuah optimisme bawah sadar yang kemudian menjadi kepercayaan umum.Kita begitu beriman pada optimis…